Selain Beras, Ilmu Apa yang Bisa Dipetik dari Sawah

Orang di negara barat dikenal sebagai sosok individualis ketimbang orang di timur. Menurut ilmuwan, sikap itu rupanya ditengarai oleh cara mereka memenuhi makan, salah satunya dengan tradisi bercocok tanam.

petani-padi
Seorang petani di Pulau Jawa membawa bibit padi siap tanam/beritadaerah.co.id

Live Knowledge – Gandum sudah menjadi makanan utama orang Barat. Mereka tak menggemari beras, selain topografi wilayah yang tak cocok. Menanam padi di sawah sudah menjadi khas mereka orang-orang di Timur. Namun, dari situ jugalah akhirnya melahirkan divergensi budaya.

Lalu bagaimana sesungguhnya hubungan bercocok tanam ini dengan budaya?

Seperti mengutip dalam laman DW Indonesia, menanam benih padi dan mengairinya adalah urusan pelik yang harus dilakukan secara kolektif. Sebaliknya budidaya gandum, jika cuaca murah hati, tidak terlampau rumit.

Begitulah teorinya. Ilmuwan meyakini, perbedaan metode bercocoktanam antara padi dan gandum memperuncing perbedaan antara penduduk di barat dan timur.

Riset inilah yang kini dituangkan dalam sebuah jurnal ilmiah yang disusun oleh ilmuwan dari Cina dan Amerika Serikat. Dalam kajian itu menyebutkan bahwa penduduk yang secara tradisional menanam padi secara perlahan akan semakin kolektif, lantaran kebutuhan untuk bekerjasama yang besar agar bisa memproduksi beras.

Sebaliknya penduduk yang menanam gandum lebih berpikir independen dan analitikal. Ini dikarenakan gandum cuma membutuhkan setengah tenaga kerja dan tidak terlalu bergantung pada kerjasama untuk memproduksinya seperti misalnya padi, tulis ilmuwan.

“Teori padi ini bisa menjelaskan perbedaan antara barat dan timur,” tulis hasil riset yang dipimpin oleh Thomas Talhelm, mahasiswa program doktor untuk Psikologi Budaya di University of Virginia.

Untuk mempermudah pengujian, ilmuwan memusatkan penelitian pada sekelompok masyarakat yang hidup di bantaran sungai Yangtse, Cina. Sungai ini membelah dua penduduk, antara masyarakat petani padi di selatan dan gandum di utara. Kedua kelompok masyarakat dinilai berbeda dalam tingkah laku dan adat istiadat.

Sebanyak 1.162 penduduk etnis mayoritas Han dari enam kota diikutsertakan dalam jajak pendapat itu. Pertanyaannya berkisar pada individualisme, kemampuan analisa dan kesadaran kolektif. Hasilnya dinilai memastikan hubungan antara kolektivisme atau individualisme dengan tradisi menanam padi atau gandum.

“Masyarakat padi di selatan Cina lebih bergantung satu sama lain dan cenderung berpikir kolektif ketimbang penduduk Cina utara yang menanam gandum,” tulis riset itu lagi.

Ya, singkatnya menanam padi bagi orang timur bukan cuma sekadar memenuhi kebutuhan perut. Tapi juga lebih kepada menanam kebersamaan, kolektifitas dan sikap bergotongroyong.

Tradisi bertanam padi telah menciptakan budaya dan sikap, dan itu mendarahdaging hingga ke seluruh orang timur.

Related Posts

Hutan, Pangan, Hak Perempuan dan Otobiografi

Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) merupakan taman nasional terluas kedua di Indonesia. Membentang di wilayah Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Bengkulu dengan luas mencapai 1,4…

Perempuan dan Kehutanan Komunitas di Indonesia: Sebuah Catatan Singkat

Sudah lebih dari empat dekade diskursus tentang perempuan dan kehutanan komunitas (community forestry) dikumandangkan. Di Indonesia, baru di Provinsi Bengkulu terdapat kelompok perempuan yang berhasil mendapatkan legalitas hak akses, partisipasi, kontrol dan manfaat hutan melalui Perhutanan Sosial.

Narasi Konservasi Berbasis Hak Perempuan Kian Menguat

Tahun 2020 yang dilanda pandemi Covid 19 tidak hanya dicatat sebagai tahun yang memberatkan. Tahun 2020 juga dicatat sebagai tahun yang kian menyadarkan bahwa dampak kerusakan lingkungan…

Mengapa Kita Tidak Belajar dari Ibu Suminah?

Cuma di Bengkulu ada usaha pembuatan sepatu buatan tangan yang menggunakan pelepah pisang sebagai bahan bakunya. Karya unik ini bahkan sudah merambah Eropa dan China. Sepatu ini dianggap sebuah produk yang berwawasan lingkungan dan lahir dari seorang perempuan yang cuma hendak memanfaatkan limbah yang banyak di sekitar rumahnya. Siapa perempuan ini?

Mengapa Lumbung Padi Tak Lagi Dipakai Petani Bengkulu

Dahulu di sejumlah wilayah Bengkulu begitu mudah ditemui lumbung padi. Tradisi menjaga ketahanan pangan ini arif dipertahankan beberapa tahun silam. Namun kini, sayang konsep tradisional yang mampu menjaga ketersediaan pangan itu memudar dan beberapa sudah menghilang.

Adaptasi Iklim dan Demam Berdarah, Kenapa Perlu Dibicarakan

Perubahan iklim mengubah segalanya. Nyamuk kini bahkan jauh lebih ganas dan berbahaya. Mereka menyerang tak mengenal waktu dan bisa membunuh siapa pun yang menyepelekan dampak dari perubahan iklim saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *