Pemda Rejang Lebong Nilai Kebun Kopi Tangguh Iklim Layak Diperluas

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi, SP, M. Si saat berdiskusi dengan perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu pada Selasa (11/11/25).

Diskusi di ruang pertemuan Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang Lebong itu membahas Rekomendasi Kebijakan berjudul Berdayakan Perempuan Petani Kopi untuk Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim yang diajukan oleh Koppi Sakti Bengkulu, dan Surat Permohonan Fasilitasi yang ditandatangani perwakilan perempuan petani kopi di 10 desa kepada Bupati Rejang Lebong.

Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP memegang poster Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Saat berdiskusi, Suradi didampingi oleh Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP. Sementara itu, perwakilan Koppi Sakti Bengkulu yang ikut berdiskusi adalah Nurlela Wati, Mercy Fitry Yana, dan Julian Novianti dari Desa Tebat Tenong Luar, serta Lena Sari Susanti dan Heni dari Desa Mojorejo.

Perempuan Petani Kopi Lebih Dekat

Suradi mengakui bahwa kopi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Rejang Lebong, bukan hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dari aspek sejarah, sosial, dan budaya. “Dari dulu, dari zaman nenek moyang, (masyarakat Rejang Lebong) sudah berkebun kopi. Mau harga kopi mahal, mau harga kopi murah, tetap berkebun kopi. Saya sebagai pegawai pun masih berkebun kopi,” ujar Suradi.

Dari pengamatannya selama ini, Suradi juga tidak menampik bahwa perempuan petani kopi memiliki relasi yang lebih dekat dengan kebun kopi dibandingkan laki-laki. Karena itu, Suradi sepakat dengan rekomendasi Koppi Sakti Bengkulu agar memberdayakan perempuan petani kopi untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim. “Saya lebih optimis kalau ibu-ibu yang melakukannya,” kata Suradi.

Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu Nurlela menyerahkan Rekomendasi Kebijakan berjudul Berdayakan Perempuan Petani Kopi untuk Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim kepada Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Suradi, SP, M. Si.

Peraturan Bupati

Suradi juga sepakat bila perempuan petani kopi di desa lain ikut membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim seperti yang dilakukan perempuan petani kopi di Desa Tebat Tenong Luar dan Desa Mojorejo. “Apalagi ibu-ibu juga sudah mengajukan Ranperdes (Rancangan Peraturan Desa), bahkan ada yang sudah disahkan menjadi Perdes. Desa-desa lain bisa menyontoh. Harapan besarnya, nantinya bisa ada Perbup (Peraturan Bupati),” kata Suradi.

Suradi berjanji akan menyerahkan Rekomendasi Kebijakan yang diajukan Koppi Sakti Bengkulu dan Surat Permohonan Fasilitasi untuk Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim yang ditandatangani perwakilan perempuan petani kopi di Desa Air Bening, Bangun Jaya, Babakan Baru, Pal VIII, Pal VII, Karang Jaya, Sumber Bening, Sambirejo, Talang Lahat, dan Cawang Baru. “Insya Allah kita akan berkolaborasi,” kata Suradi.

Bukan Hanya Perempuan Petani Kopi di 10 Desa

Sekretaris Koppi Sakti Bengkulu Mercy Fitry Yana mengatakan, langkah perwakilan perempuan petani kopi dari 10 desa menandatangani surat permohonan fasilitasi merupakan hasil pertemuan yang dilakukan Koppi Sakti Bengkulu belum lama ini. Dia optimis jika perempuan petani kopi di desa-desa lain turut diundang, mereka juga akan menandatangani surat serupa.

“Keterbatasan dana membuat kami hanya mengadakan pertemuan di dua kecamatan, dengan mengundang perwakilan dari lima desa untuk setiap kecamatan. Jika saja kami bisa mengundang ibu-ibu dari desa lain, serta mengadakan pertemuan di kecamatan lain, kami optimis ibu-ibu yang hadir juga akan menandatangani surat permohonan fasilitasi kepada Bupati Rejang Lebong,” kata Mercy.

Mercy tidak menampik bahwa langkah mereka membangun kebun kopi tangguh iklim relatif baru dan dilakukan bertahap. Kendati demikian, dampak positifnya sudah mulai dirasakan. “Misalnya dari sisi ekonomi. Tahun lalu, hasil panen di kebun kopi saya, dengan jumlah pohon kopi sebanyak 700 batang, sekitar 400 Kg beras kopi (green bean). Tahun ini meningkat menjadi 700 Kg,” ujar Mercy.

Selain peningkatan hasil panen kopi, potensi peningkatan pendapatan juga datang dari penerapan pola polikultur. “Ke depannya, kami tidak hanya memanen kopi, tetapi juga beragam jenis buah, sayur dan rempah. Selain menambah pendapatan, tentunya hasil panen buah, sayur dan rempah ini juga untuk kebutuhan rumah tangga dan kegiatan sosial,” kata Mercy.

Perwakilan Koppi Sakti Bengkulu, Juian Novianti menyerahkan surat permohonan fasilitasi yang ditandtangani perwakilan perempuan petani kopi di 10 desa kepada Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Lince Malini, SP.

Kopi Premium Organik dan Ramah Iklim

Lince menilai, langkah membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga strategis untuk meningkatkan harga jual kopi. “Kopi dari Kebun Kopi Tangguh Iklim bisa menjadi identitas tersendiri yang berpotensi menaikan harga. Harga green bean kopi premium (non-organik) saat ini berkisar Rp 85.000 – Rp 100.000, sementara harga (green bean) kopi premium organik bisa mencapai Rp 150.000. Jika  dikaitkan dengan upaya menghadapi perubahan iklim, mungkin harganya bisa lebih tinggi lagi,” kata Lince. (**)

Related Posts

Mutigh Kawe(o): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Membaca lima belas kata terakhir dalam kalimat Steven Topik seketika meretakkan dinding pengetahuan saya tentang sejarah kopi di Indonesia. Saya sisir ulang kalimat itu untuk menahan agar…

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun…

Enggan Menjadi Korban Sunyi Bencana Senyap Krisis Iklim

Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. “Di sini lebih banyak,” katanya pelan seolah enggan memberitahukan. Buah-buah kopi hijau muda dan hijau…

Memanggil Kembali Roh Menanam Padi Riun: Ikhtiar Merawat Kedaulatan Pangan di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah,…

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Satu Per Satu Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan…

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat…

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *