Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat perubahan iklim, membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim juga berarti mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

“Justru harus dimasifkan,” kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Bengkulu, M. Fajrin Hidayat, saat ditemui di ruang kerjanya pada Senin (1/12/25) sore. “Terutama di daerah-daerah hulu DAS yang bentang alamnya sudah berubah menjadi kebun-kebun kopi, sehingga meminimalkan risiko bencana longsor dan banjir yang bisa berdampak ke hilir,” tambah Fajrin.

Salah seorang penggerak Koppi Sakti Bengkulu, Ema Susana membuat lubang angin (mini rorak) di kebun kopi.

Sebagaimana diketahui, gerakan membangun kebun kopi tangguh iklim yang diinisiasi oleh perempuan petani kopi di Kepahiang dan Rejang Lebong yang tergabung dalam Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu dilakukan dengan menghidupkan kembali berbagai kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang selaras dengan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Berbagai kearifan/praktik lokal tersebut meliputi mengembangkan pola polikultur dengan menanam pepohonan MPTS seperti nangka, alpukat, durian, jengkol, petai, kabau dan lainnya serta tanaman sayuran dan rempah, membuat lubang angin (mini rorak) minimal 150 unit dengan ukuran minimal 30×30 cm dan kedalaman 30 cm, tidak membakar, tetapi membiarkan hasil pengendalian rerumputan secara manual dan pemangkasan pohon kopi dan pohon lainnya menjadi serasah atau mulsa organik, memanfaatkan sekam kopi dan serasah menjadi pupuk organik, menggunakan pestisida hayati, serta membuat kolam penampungan air hujan.

Salah seorang penggerak Koppi Sakti Bengkulu, Desmi Julita Hayani menanam bibit alpukat di kebun kopi.

Bukan Hanya untuk Keberlanjutan Kebun Kopi

Dari berbagai kearifan/praktik lokal tersebut, Fajrin menilai, kearifan/praktik lokal seperti mengembangkan pola polikultur, membuat lubang angin (mini rorak), membiarkan hasil pengendalian rerumputan secara manual dan pemangkasan pohon kopi dan pohon lainnya menjadi serasah, dan membuat kolam penampungan air hujan sangat selaras dengan konservasi tanah dan air untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

“Justru seperti itulah petani kopi seharusnya mengelola kebun kopinya. Bukan hanya penting untuk keberlanjutan kebun kopinya dari aspek ekonomi, sosial dan ekologi, tetapi juga untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi yang bisa berdampak ke hilir,” kata Fajrin yang juga merupakan Ketua Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.

Untuk memasifkan gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim, Fajrin mengatakan, pemerintah daerah bisa memberikan dukungan dengan menguatkan kapasitas dan memberikan bantuan kepada perempuan petani kopi lainnya yang belum membangun kebun kopi tangguh iklim, dan membuat regulasi. “Regulasi penting untuk memasifkannya,” ujar Fajrin.

Salah seorang penggerak Koppi Sakti Bengkulu Julian Novianti memanen buah kopi berwarna merah.

Pengajuan Rekomendasi Kebijakan

Sebelumnya, Koppi Sakti Bengkulu telah mengajukan Rekomendasi Kebijakan berjudul Berdayakan Perempuan Petani Kopi untuk Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dan menyerahkan surat permohonan agar difasilitasi untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim yang ditandatangani oleh perwakilan perempuan petani kopi di 20 desa kepada Pemda Kepahiang dan Pemda Rejang Lebong.

Menanggapi pengajuan surat permohonan dan rekomendasi kebijakan tersebut, Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata mengatakan, akan meminta Dinas Pertanian Kabupaten Kepahiang untuk melakukan kajian dan telaah, terutama dari aspek regulasi (peraturan). “Intinya, saya amat sangat mendukung inovasi ini,” kata Nata pada Kamis (16/10/25).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong Suradi mengatakan, akan menyampaikan rekomendasi kebijakan dan surat permohonan dari perempuan petani kopi yang diterimanya kepada Bupati Rejang Lebong M. Fikri Thobari. “Insya Allah kita akan berkolaborasi,” kata Suradi pada Selasa (11/11/25). (**)

Related Posts

Pemda Rejang Lebong Nilai Kebun Kopi Tangguh Iklim Layak Diperluas

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan…

Sekolah Adat Tunggu Tubang, Jalan Pulang Generasi Muda Adat Semende

Komunitas Adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan sekolah adat pada Sabtu (18/10/25). Sekolah yang dibangun secara bergotong-royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap…

Bupati Kepahiang Ingin Kebun Kopi Tangguh Iklim Menyerbak

“Ini yang saya cari,” ujar Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, S.IP dalam diskusi bersama perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di…

Perempuan Petani Kopi dari 20 Desa Surati Bupati Minta Fasilitasi Bangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

Sebanyak 40 orang perempuan petani kopi dari 20 desa di Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong menandatangani surat permintaan kepada bupati agar memfasilitasi para perempuan petani kopi…

Perempuan Besemah Padang Guci: Pelestarian Aren Penting untuk Adat dan Tradisi

“Bubugh (bubur). Wajib ada saat jamuan adat perkawinan di adat kami, orang Besemah Padang Guci. Tidak bisa tidak ada,” kata Endang Putriani (36), perempuan Besemah Padang Guci…

Senyum Bahagia Perempuan Petani Kopi Merasakan Perubahan dari Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

Senyuman yang mengekpresikan rasa bahagia nyaris tidak pernah lepas dari wajah anggota Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Desa Tebat Tenong Luar, Rejang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *