Membaca lima belas kata terakhir dalam kalimat Steven Topik seketika meretakkan dinding pengetahuan saya tentang sejarah kopi di Indonesia.
Saya sisir ulang kalimat itu untuk menahan agar konstruksi sejarah yang telah bertahun-tahun berdiri kokoh di kepala saya tidak runtuh begitu saja:
“Belanda adalah kekuatan kolonial Eropa pertama yang meraih kesuksesan besar dalam menanam kopi di wilayah jajahan mereka saat mereka membawanya ke Jawa pada tahun 1690-an,” tulis Topik, “meskipun tidak diragukan lagi bahwa para pengembara Muslim telah lebih dulu memperkenalkan kopi ke Indonesia.”
Retakan itu kian menganga ketika saya membaca tiga kata penutup dalam kalimat Steven Topik dan William Gervase Clarence-Smith yang spesifik menunjukan lokasi: “Terutama di Sumatera.”
Tak dapat ditahan, retakan menyebar dan akhirnya dinding itu ambruk.
Beberapa waktu kemudian, di antara reruntuhannya, bergema kalimat Juan Carlos Herrera dan Charles Lambot seperti mengingatkan: “Sepanjang masa, telah ada banyak kisah mengenai asal-usul dan penemuan kopi.” Saya pun tergerak untuk membangun ulang dinding pengetahuan tentang sejarah kopi, terutama, di Bengkulu, agar ruang di kepala tidak terus melompong.
Meminjam istilah yang diungkapkan petani kopi di berbagai desa di Bengkulu, mutigh kawe/kawo, saya melakukannya dengan memanen berbagai catatan yang berkelindan dengan sejarah di luasnya kebun pengetahuan.
Saya juga telah memilah dan mengolahnya, dan kini sedang menyajikannya untuk mengajak Anda mendiskusikannya sambil menikmati segelas kawe(o), qahwa (Arab), coffee (Inggris), atau koffie (Belanda).

Alkisah, Kambing yang Menari
Dari sejumlah kisah yang dikenal luas, tulis Mark Pendergrast, yang paling menarik adalah kisah kambing yang “menari”:
Suatu sore, Kaldi, seorang penggembala kambing di Etiopia, merasa bingung karena kambing-kambingnya tak kunjung datang meski ia telah berulang kali meniupkan nada melengking dari serulingnya—tanda khusus untuk mengajak mereka pulang.
Kaldi pun mencari mereka dan terperanjat menemukan hewan-hewan gembalaannya sedang berlarian, saling menyeruduk, menari dengan kaki belakang, dan mengembik penuh semangat di tengah hutan. Ia juga melihat mereka tengah mengunyah daun hijau mengilap dan buah merah kecil dari pohon yang asing baginya.
Keesokan harinya, hewan-hewan itu mendatangi pohon yang sama untuk kembali “berpesta”. Kali ini, Kaldi memutuskan untuk mencoba. Ia mengunyah beberapa helai daun yang terasa pahit.
Sesaat kemudian, ia mulai merasakan sensasi yang mengalir dari lidah ke perut, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Penasaran, ia pun mencoba buah merahnya. Rasanya agak manis dengan biji yang terbungkus lendir tebal yang lezat. Akhirnya, ia mengunyah bijinya dan terus memakan buah merah lainnya.
Lalu, Kaldi pun ikut berjingkrak kegirangan bersama kambing-kambingnya.
Setibanya di rumah, Kaldi menceritakan pohon ajaib itu kepada ayahnya, hingga akhirnya kabar tersebut tersebar luas.
Kisah lainnya yang tak kalah memikat, tulis Bennett Alan Weinberg dan Bonnie K. Bealer yang merujuk catatan Ludwig Krapf, adalah musang penyebar biji kopi. Hewan yang gemar memanjat pohon, memakan buah terbaik, dan menyebarkan biji yang tidak dapat dicernanya melalui kotoran inilah yang dikisahkan sebagai penyebar biji kopi liar dari Afrika Tengah ke pegunungan Ethiopia Arusi dan Itta-Gallas, yang merupakan wilayah suku Galla (Oromo), tempat tanaman tersebut pertama kali dibudidayakan, lalu akhirnya dibawa ke Arab.
Kedua kisah tersebut, tulis Weinberg dan Bealer, mencerminkan orang Etiopia, yang merupakan leluhur suku Galla (Oromo), adalah orang yang pertama kali mengenal “khasiat” kopi. “Suku Galla, pada masa lampau yang tidak tercatat, mengumpulkan buah matang dari pohon liar, menggilingnya dengan lesung batu, lalu mencampur tumbukan biji serta daging buahnya dengan lemak hewan. Mereka membentuknya menjadi bola-bola kecil yang dibawa sebagai bekal dalam ekspedisi perang.”
Jonathan Morris juga menuliskan, suku Oromo memanfaatkan hampir setiap elemen dari tanaman tersebut. “Ini meliputi kuti, teh yang terbuat dari daun muda yang disangrai ringan; hoja, campuran kulit kering buah kopi dengan susu sapi; serta bunna qela, yaitu biji kopi kering yang disangrai dengan mentega dan garam untuk menghasilkan camilan padat penambah energi yang dibawa dalam ekspedisi. Dari semuanya, buna adalah yang paling terkenal; kulit kopi kering direbus dalam air mendidih selama lima belas menit sebelum hasilnya disajikan sebagai minuman.”
Kisah menarik lainnya, tulis William H. Ukers, adalah Syekh Omar yang secara tidak sengaja menemukan minuman kopi dalam pengasingannya di pegunungan Ousab di Yaman sekitar tahun 1258 M:
Alkisah, Syekh Omar diusir oleh musuh-musuhnya dari Moka ke padang pasir, tempat ia diharapkan akan mati kelaparan. Akan tetapi, demi bertahan hidup, ia memberanikan diri mencicipi buah-buah yang tampak ranum di semak-semak.
Buah itu ternyata terasa sangat pahit. Ia pun mencoba memperbaiki rasanya dengan memanggang buah tersebut. Bijinya malah mengeras. Ia pun berusaha melunakkannya dengan air.
Biji-biji itu tetap keras, namun cairannya berubah menjadi kecokelatan. Ia meminumnya dengan harapan cairan itu mengandung nutrisi dari buah tersebut.
Syekh Omar takjub. Cairan itu terasa menyegarkan, menghilangkan rasa lesu, dan membangkitkan semangatnya yang redup.
Ketika ia berhasil kembali ke Moka, keselamatannya dianggap sebagai mukjizat. Minuman yang menyelamatkannya menjadi sangat populer, dan Syekh Omar diangkat sebagai orang suci.
Minuman Kaum Sufi
Kisah lain yang tak kalah penting, tulis Ralph S. Hattox, adalah Muhammad bin Sa’id al-Dhabhani yang dikenal sebagai Gemaleddin. Merujuk catatan Abd Al-Qadir al-Jaziri yang mengutip Shihab Al-Din Ibn ‘Abd al-Ghaffar, Gemaleddin disebut sebagai orang yang memperkenalkan dan memopulerkan kopi di Yaman, yang berawal dari lingkaran kaum Sufi.
“Pada awal abad ini [abad ke-16], berita sampai kepada kami di Mesir bahwa sebuah minuman bernama qahwa telah menyebar di Yaman dan digunakan oleh para syekh Sufi serta orang lain untuk membantu mereka tetap terjaga selama latihan ibadah mereka, yang mereka lakukan sesuai dengan Tarekat mereka.… Kemudian sampai kepada kami, beberapa waktu kemudian, bahwa kemunculan dan penyebarannya di sana disebabkan oleh upaya syekh yang terpelajar, imam, mufti, dan Sufi, Jamal al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn Sa’id, yang dikenal sebagai al-Dhabhani….
Alasan ia memperkenalkan kopi, menurut apa yang kami dengar, adalah karena suatu urusan yang memaksanya meninggalkan Aden dan pergi ke Ethiopia, tempat ia tinggal selama beberapa waktu. [Di sana] ia menemukan orang-orang menggunakan qahwa, meskipun ia tidak tahu apa pun tentang karakteristiknya. Setelah ia kembali ke Aden, ia jatuh sakit, dan teringat akan [qahwa], ia meminumnya dan merasakan manfaatnya. Ia menemukan bahwa di antara khasiatnya adalah dapat mengusir kelelahan dan kelesuan, serta memberikan semangat dan kekuatan tertentu bagi tubuh.
Akibatnya, ketika ia menjadi seorang Sufi, ia dan para Sufi lainnya di Aden mulai menggunakan minuman yang terbuat darinya, sebagaimana telah kami sampaikan. Kemudian seluruh rakyat—baik yang terpelajar maupun masyarakat awam—mengikuti [teladannya] dalam meminum kopi, untuk mencari bantuan dalam belajar serta pekerjaan dan kerajinan lainnya, sehingga kopi terus menyebar.”
Menariknya, al-Jaziri juga menyajikan proses verifikasi.
“[Ketika kami mendengar semua ini,] saya menulis surat kepada salah seorang saudara kita di jalan Allah, salah seorang ahli ilmu dan agama di Zabid [sebuah kota di Yaman], yaitu ahli hukum Jamal al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad ibn ‘Abd al-Ghaffar Ba-‘Alawi … meminta agar ia memberi tahu saya siapa di antara orang-orang berilmu dan beriman, orang-orang yang pendapatnya dihormati, yang meminumnya, dan mengenai kemunculan pertamanya ….
Ia menjawab: ‘Saya bertanya kepada sekelompok tetua di negeri kami [tentang kemunculan kopi], yang tertua di antara mereka saat ini adalah paman saya, ahli hukum Wajib al-Din ‘Abd al-Rahman ibn Ibrahim al-‘Alawi—seorang pria berusia di atas sembilan puluh tahun—dan ia memberi tahu saya … ‘Aku pernah berada di kota Aden, dan datang kepada kami beberapa Sufi miskin, yang membuat dan meminum kopi, dan yang juga membuatnya untuk ahli hukum terpelajar Muhammad Ba-Fadl al-Hadrami, ahli hukum tertinggi di pelabuhan Aden, dan untuk … Muhammad al-Dhabhani. Keduanya meminumnya bersama sekelompok orang, di mana teladan mereka sudah cukup menjadi bukti.’”
Selain al-Dhabhani, tulis Hattox, al-Jaziri juga mengisahkan ‘Ali ibn ‘Umar al-Shadhili yang disebut sebagai orang yang memperkenalkan dan memopulerkan kopi, dengan merujuk Fakhr al-Din al-Makki.
“Telah dikatakan bahwa orang pertama yang menyebarkan [penggunaan kopi] adalah al-Dhabhani, tetapi apa yang sampai kepada kami dari banyak orang adalah bahwa orang pertama yang memperkenalkan (qahwa) dan menjadikannya [kebiasaan] yang luas serta populer di Yaman adalah tuan kami, Syekh… ‘Ali ibn ‘Umar al-Shadhili, murid dari tuan kami, Syekh… Nasir al-Din ibn Maylaq….”
Terlepas siapa yang lebih dulu memperkenalkannya di kalangan kaum Sufi, tulis Anthony Wild, tradisi ini didukung kuat oleh bukti arkeologis. “Penggalian di Zabid menunjukkan bahwa pada awalnya (sekitar tahun 1450), kopi hampir dipastikan disajikan di kalangan komunitas Sufi saat dzikir mereka (ibadah komunal, biasanya pada malam hari) menggunakan sendok besar yang dicelupkan ke dalam mangkuk berglisir yang disebut majdur. Sebelumnya, tembikar jenis ini tidak diberi glisir, yang menunjukkan bahwa kopi dianggap memiliki tingkat kepentingan yang lebih tinggi dibandingkan cairan lainnya.”
Menyebar ke Dunia Luar
Praktik-praktik Sufi, tulis Jonathan Morris, telah membantu perpindahan pengetahuan tentang kopi ke arah utara menuju wilayah Arab, mencakup kota-kota suci Mekkah, Jeddah, dan Madinah. Di Kairo, sekitar tahun 1500-an, mahasiswa asal Yaman meminumnya di Universitas Islam Al-Azhar.
Pengadopsian kopi sebagai minuman yang dikonsumsi di luar upacara keagamaan merupakan faktor penggerak di balik kian meluasnya konsumsi kopi. “Kopi terus menyebar ke seluruh dunia Islam, dibantu oleh para pengunjung Mekkah yang mengenalnya saat melakukan ibadah Haji.”
Etiopia, tulis Morris, tetap menjadi satu-satunya sumber kopi hingga tahun 1540-an. Namun, kombinasi antara permintaan yang meningkat dan pasokan yang tidak menentu menyebabkan kopi mulai dibudidayakan di dataran tinggi pedalaman Yaman, di antara dataran pesisir Tihama dan ibu kota Sana’a.
“Benih dari varietas biji kecil yang ditemukan liar di Etiopia ditanam oleh para petani di samping tanaman pangan mereka di lahan keluarga. Inilah perkebunan kopi pertama di dunia. Wilayah tersebut tetap menjadi satu-satunya pusat produksi kopi komersial selama hampir dua abad.”
Pada akhir abad ke-16, kopi mulai menyebar ke Eropa dan Amerika Utara, yang kemudian mereka bawa ke wilayah-wilayah koloni mereka. “Belanda (Jawa, Suriname), Prancis (Réunion, Martinique, Guadeloupe, Saint Domingue, Madagaskar, Pantai Gading, Vietnam, Kaledonia Baru), Inggris (India, Ceylon/Sri Lanka, Jamaika, Kenya, Tanganyika, Uganda), Portugis (Brasil, Angola, São Tomé), Spanyol (New Spain/Meksiko, Kuba, Puerto Riko, Filipina), Italia (Eritrea), Belgia (Kongo), Jerman (Tanganyika, Kamerun, New Guinea), dan Amerika Utara (Puerto Riko, Hawai’i),” tulis Topik dan Clarence-Smith.

Thomas Paar Dibunuh
Pada 25 Juni 1685, kapal-kapal EIC (East India Company), perusahaan dagang Inggris, mendarat di Bengkulu.
Sejatinya, tulis Marsden, kapal-kapal tersebut akan berlayar ke Pariaman untuk menjalankan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di pesisir barat Sumatra untuk membantu mereka melawan Belanda yang memerangi dan mengganggu mereka, dengan menawarkan lahan untuk benteng dan hak pembelian eksklusif atas lada mereka.
Namun, satu atau dua hari sebelum kapal berlayar, sebuah undangan dengan maksud serupa diterima dari para kepala suku di Bengkulu. “Karena diketahui bahwa sebagian besar lada yang biasa diekspor dari Banten dikumpulkan dari sekitar Bencoolen (di sebuah tempat bernama Silebar), diputuskan bahwa Tuan Ord, yang dipercaya mengelola urusan ini, harus terlebih dahulu menuju ke sana; terutama karena pada musim tersebut, pelabuhan itu berada di posisi arah angin yang menguntungkan.”
Belanda, yang kemudian mengetahui kepentingan Inggris, berupaya menghalangi. “Kepentingan kami pada akhirnya menang, dan Bencoolen secara khusus—di mana tempat-tempat lain dijadikan bawahannya pada tahun 1686—mulai memperoleh tingkat kekuatan dan reputasi tertentu. Pada tahun 1689, dorongan diberikan kepada koloni Tionghoa untuk menetap di sana…. Pada tahun 1691, Belanda merasakan hilangnya pengaruh mereka di Silebar dan negeri-negeri selatan lainnya, di mana mereka mencoba memaksakan otoritas atas nama Sultan Banten, dan hasil bumi dari tempat-tempat tersebut diserahkan kepada Inggris.”
Dalam kurun tahun 1714-1719, Inggris membangun Benteng Marlborough di Bengkulu sebagai basis pertahanan militer dan pusat administrasi Inggris di pantai barat Sumatera.
Mengenai kopi, Marsden yang pernah mengunjungi berbagai tempat di Sumatera saat bertugas dalam kurun waktu 1771-1779 melihat kopi sudah ditanam oleh penduduk lokal. “Pohon-pohon kopi ditanam secara merata di mana-mana, tetapi buah yang dihasilkan di sini tidak unggul kualitasnya, yang kemungkinan besar disebabkan sepenuhnya oleh kurangnya keterampilan dalam pengelolaannya.”
Ia juga menceritakan upaya Inggris untuk mengembangkan kopi. “Saya telah melihat banyak perkebunan … kopi yang luas, yang dibangun dengan biaya besar oleh berbagai tuan (Eropa), dan tidak satu pun yang saya ingat berhasil…. Kekecewaan ini telah menyebabkan orang Eropa hampir sepenuhnya mengabaikan pertanian.”
Ketika tidak lagi bertugas di Bengkulu, Marsden menerima surat dari Campbell bertanggal 29 Maret 1802 yang menceritakan, “Setelah banyak kesulitan dan kejengkelan, saya turun dari dataran tinggi ke lembah-lembah curam, dan di sanalah saya memperoleh keberhasilan yang sebelumnya tidak saya dapatkan di dataran yang tinggi. Di salah satu lembah tersebut, yang dialiri oleh sungai kecil yang bermuara ke Danau Dusun Besar, saya mencoba membuka perkebunan kopi, di mana sekarang terdapat lebih dari tujuh ribu tanaman yang telah berakar kuat dan mulai mengeluarkan daun-daun baru.”
Dalam surat pada November 1803, Campbell juga menceritakan: “Kopi yang Anda pernah lihat di pesisir saya temukan telah sangat merosot kualitasnya karena kurangnya budidaya dan perawatan sehingga tidak layak untuk dikembangkan lagi. Tetapi masalah ini telah teratasi, karena lebih dari tiga tahun yang lalu saya memperoleh dua puluh lima tanaman dari Moka. Tanaman tersebut mulai berbuah dalam waktu sekitar dua puluh bulan, kini sedang panen kedua, dan berbuah lebih lebat daripada pohon buah apa pun yang pernah saya lihat. Hasil rata-ratanya sekitar delapan pon per pohon; tetapi hasil sebanyak itu tidak dapat diharapkan di perkebunan yang luas.”
Thomas Parr, yang menjadi Residen Bengkulu, juga berupaya untuk mengembangkan kopi di Bengkulu. Ia, tulis John Bastin, mengunjungi Kalkuta untuk menjelaskan kepada otoritas bahwa pasar lada saja tidak memberikan prospek untuk memperbaiki nasib Bengkulu. “Ia mencoba meyakinkan mereka tentang kebutuhan untuk memperluas budidaya rempah-rempah dan kopi di pantai barat…. Parr tampaknya mendapat dukungan di Bengal, karena Gubernur Jenderal setuju agar perkebunan kopi Moka didirikan atas nama Perusahaan, dan dikelola oleh narapidana asal Bengal.”
Parr juga memaksa penduduk untuk mengganti lada dengan kopi. Namun, ia mendapatkan perlawanan. “22 Desember (1807), rumah Kompeni di Benteenin dibakar habis dan, melihat gejala ketidakpuasan umum atas budidaya kopi telah mencapai proporsi yang berbahaya, langkah-langkah diambil oleh Residen untuk membatalkan kebijakan tersebut,” tulis Jeyamalar Kathirithamby-Wells.
Akan tetapi, informasi mengenai pencabutan kewajiban tersebut tidak disampaikan tepat waktu. “Pada malam tanggal 27 Desember, sebuah pasukan yang diperkirakan berjumlah 300 orang melancarkan serangan mendadak ke kediaman Parr di Mt. Felix dan membunuh Residen Inggris tersebut, yang mereka anggap sebagai sumber masalah bagi mereka.”
Pada 25 Agustus 1809, tulis Bastin, Richard Parry yang menggantikan Parr, dengan merujuk pada surat Parr tanggal 7 Mei 1807, melaporkan bahwa tidak ada kopi yang dikirim dari Bengkulu seperti yang dijanjikan, dan selama setahun terakhir hanya sembilan belas pon yang dikumpulkan dari perkebunan lokal. Pada 2 Juli 1810, ia memberi tahu bahwa ia telah mencoba menarik minat orang Bengkulu untuk menanam kopi, tetapi ditolak. “Budidaya kopi berhenti sama sekali pada tahun 1813 … tetapi Raffles (Thomas Stamford Raffles) menghidupkan kembali budaya tersebut pada tahun 1819-20.”
Dalam surat bertanggal 27 April 1818 untuk Marsden, Raffles yang ditulis ulang oleh Sophia Raffles bercerita. “Ia (Parr) tentu saja bertindak dengan terlalu tergesa-gesa dan tanpa pertimbangan yang matang … dan upaya untuk memaksa budidaya kopi tampaknya telah membawa ketidakpuasan tersebut ke titik krisis.”
Keinginan Raffles untuk mengembangkan perkebunan kopi kurang mendapatkan dukungan otoritas. “Kopi dan produksi tropis lainnya tentu saja dapat dibudidayakan di sini dengan keuntungan yang setara … saya tidak bisa tidak menyesali bahwa perhatian publik tidak diarahkan pada keuntungan yang mungkin dihasilkan dari kolonisasi bagian Sumatra ini,” cerita Raffles kepada the Duke of Somerset dalam surat bertanggal 20 Agustus 1820.
“Pihak otoritas atasan bersikeras bahwa kita tidak bisa …. menanam kopi,” cerita Raffles kepada Marsden dalam surat bertanggal 8 September 1823.
Kopi Rakyat yang Bebas
Belanda, tulis Waling Karst Huitema, terdorong untuk memutuskan membudidayakan kopi di wilayah koloni karena mendapat perlakuan tidak layak dari otoritas Arab. Dorongan pertama untuk mendatangkan tanaman kopi ke Jawa terjadi pada tahun 1696. Namun, bibit pertama tersebut musnah akibat banjir pada tahun 1699.
Pada tahun 1699, tanaman baru dibawa ke Jawa. Tanaman ini tumbuh dengan sangat baik dan menjadi tanaman induk bagi budidaya kopi VOC. Sejak itu, budidaya kopi di Jawa mulai serius dilakukan pada tahun 1707.
Selain di Jawa, di mana budidaya pertama kali diperkenalkan di wilayah Priangan dan Cirebon, penanaman kopi juga diperintahkan di Maluku untuk menghambat perluasan cengkeh pada 1725. “Ketika produksi di Jawa terbukti mencukupi, budidaya di Maluku dihentikan,” tulis Huitema.
Belanda secara resmi menguasai Bengkulu setelah menandatangani Traktat London dengan Inggris pada 17 Maret 1824. Melalui perjanjian tersebut, Inggris menyerahkan Bengkulu dan menarik diri dari Sumatera, dan Belanda menyerahkan Malaka ke Inggris dan menarik klaim atas Singapura.
Pada tahun 1833, tulis Huitema, Johannes van den Bosch memberlakukan tanam paksa lada dan kopi, baik di Jawa maupun luar Jawa. Setiap rumah tangga wajib menanam 300 pohon kopi dan 200 pohon lada. Jika penduduk tidak bersedia tunduk dikenakan pajak sebesar f 2,00 hingga f 4,00 per rumah tangga, yang dapat dibayar dengan uang atau produk.
“Untuk produk kopi yang harus diserahkan ke gudang di Bengkulu tanpa biaya tambahan, ditetapkan harga sebesar f 15,00 per pikul. Pada saat ekspor, kedua komoditas tersebut akan dikenakan pajak sebesar $1/5 dari nilainya, di luar bea cukai yang telah ditetapkan.”
Belanda secara bertahap mulai melonggarkan sistem tanam paksa. Pada tahun 1841, Belanda memberlakukan penyerahan wajib lada dan kopi di Bengkulu. “Meskipun awalnya dikabarkan ada kemajuan, pada akhirnya pemerintah menerima sangat sedikit pikul di gudang-gudang mereka. Setelah tahun 1854, upaya kembali dilakukan untuk memajukan budidaya kopi. Namun, total penyerahan selama sebelas tahun (1858-1868) tidak pernah lebih dari 535 pikul. Dari jumlah tersebut, wilayah Kroe (Pesisir Barat) menyumbang 514 pikul,” tulis Huitema.
Pada tahun 1864 muncul usulan untuk mengganti tanam paksa dengan pajak kepala (hoofdgeld). “Di Bengkulu, budidaya tersebut sebenarnya masih harus diperkenalkan…. Selain itu, kopi yang dihasilkan kemungkinan besar akan diselundupkan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari penyerahan wajib,” kata Mantan Asisten Residen Abraham Pruys van der Hoeven sebagaimana ditulis Huitema.
Pada tahun 1870, Belanda mencabut sistem tanam paksa lada dan kopi dengan menggantinya dengan pajak. “Pada tahun itu … sama sekali tidak ada satu pikul kopi pun yang dibawa ke gudang,” tulis Huitema.
“Bengkulu akhirnya kembali ke budidaya kopi rakyat yang bebas yang sudah dilakukan sebelum masa sistem paksa.”

Meledak di Padang
Kemerdekaan koloni-koloni Amerika (tahun 1783) yang telah mendorong orang-orang Amerika berspekulasi mendapatkan barang-barang langsung dari negara asal, yang sebelumnya diimpor melalui Inggris, tulis Christine Dobbin, dan terhentinya produksi kopi di Karibia, St. Domingue (wilayah koloni Perancis), yang merupakan pemasok dua pertiga kopi dunia, akibat pemberontakan budak pada 1791 memicu pencarian wilayah penghasil kopi.
“Kapal pertama yang mengibarkan bendera Amerika Serikat singgah di Ujung Aceh, Sumatera, dalam pelayaran menuju India pada tahun 1784, dan pada awal tahun 1788 dilaporkan bahwa para pedagang dari Salem, Massachusetts, sedang mencari pasokan kopi di timur.”
Pada tahun 1790, tulis Dobbin, muatan kopi Amerika pertama dikirim dari Padang. Setelah itu, delapan hingga sepuluh kapal Amerika singgah di Padang setiap tahun, meskipun pada periode kendali Inggris atas pelabuhan tersebut, antara tahun 1795 dan 1819, mereka umumnya lebih memilih datang ke wilayah Pariaman-Ulakan agar tidak melanggar peraturan mengenai perdagangan Amerika dengan pelabuhan-pelabuhan Inggris di India.
“Hampir seluruh porsi kopi “Java” yang dikonsumsi di Amerika Serikat diproduksi di Pulau Sumatera … kopi Sumatra umumnya lebih disukai oleh para penikmat Amerika dibandingkan dengan hasil panen dari Jawa,” tulis Francis Thurber.
Meledaknya kopi Padang, tulis Dobbin, menarik para pedagang swasta Inggris, termasuk para pegawai Perusahaan Hindia Timur (EIC) di Padang ikut bersaing untuk pengiriman kopi. Pada tahun 1800, residen perusahaan Inggris di Padang mencatat namanya sendiri telah mengekspor kopi ke Inggris pertama kali dari perbukitan di timur laut Padang sebanyak 4.000 pikul.
“Kita tahu bahwa tidak hanya pedagang swasta Inggris dari Benggala dan Madras yang berdagang di Pariaman, tetapi agen-agen Tionghoa dan Melayu dari pemukiman Inggris (EIC) di Bengkulu juga melakukannya.”
Surau dan Desa Kopi
Kopi, tulis Dobbin, kemungkinan besar pertama kali diperkenalkan ke dataran tinggi Padang oleh penziarah Islam pada abad ketujuh belas. Islam disiarkan dengan membangun persaudaraan muslim (tarekat) dengan menyesuaikan sistem surau Minangkabau. “Para pengikut persaudaraan ini, yang disebut Sufi, berkonsentrasi mengikuti sebuah tarika yang ditetapkan oleh seorang guru atau syekh, di mana mereka berkumpul di surau sang guru, sering kali selama bertahun-tahun.”
“Pada malam hari, para murid akan berkumpul bersama untuk melakukan zikir … Surau-surau yang lebih kecil bahkan lebih bergantung pada aktivitas pertanian mereka; para murid hanya akan diberi instruksi pada pagi buta dan selama beberapa jam di malam hari, sementara siang harinya didedikasikan untuk tugas-tugas pertanian dan merawat ternak,” tulis Dobbin.
Menjelang abad kedelapan belas, tulis Dobbin, terdapat tiga tarekat Sufi yang beroperasi di Minangkabau: Naqsyabandiyah, Syattariyah, dan Qadiriyah. Tarekat Naqsyabandiyah kemungkinan dibawa pada paruh pertama abad ketujuh belas oleh seorang ulama dari Pasai di timur laut Sumatera, yang memasuki Minangkabau melalui Pariaman dan kemudian tinggal beberapa lama di Agam dan Limapuluh Kota. Dalam gaya khas guru tarekat, ia tidak segan-segan melakukan pekerjaan pertanian untuk mencari nafkah.
Sementara itu, tarekat Syattariyah yang diperkenalkan ke Sumatera oleh Abdurrauf dari Singkil (1615–1693) setelah kembali dari belajar selama 19 tahun di Yaman, Jeddah, Mekah, dan Madinah, yang dibawa oleh muridnya yang berasal dari Minangkabau, Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1693) ke Minangkabau sekitar akhir abad ketujuh belas.
“Sebagai pusat pengajaran sekaligus tarekat sufi, surau memberi fondasi kuat bagi Islamisasi masyarakat Minangkabau berikutnya di wilayah yang lebih pedalaman. Mereka membuat ajaran Islam dapat diterima oleh bentuk pemikiran berbasis-agrikultur di desa-desa … menciptakan kondisi yang mendukung integrasi islam dengan kehidupan masyarakat desa. Hasilnya, lingkungan pertanian menjadi salah satu aspek penting dalam surau,” tulis Achmad Syahid dkk.
Kopi yang kemungkinan besar ditanam di lingkungan surau untuk minuman zikir, perlahan diadopsi warga sekitar. “Keluarga-keluarga yang memiliki pohon buah di sekitar pekarangan keluarga juga dapat menanam kopi dengan cara yang sama, hingga akhirnya membentuk pagar tanaman lebat yang dinaungi oleh pohon-pohon lain dan dikenal sebagai pagar kopi. Produknya tidak dijual dalam bentuk biji melainkan dalam bungkusan dahan kering berdaun yang direbus oleh orang Minangkabau untuk dijadikan minuman, budidaya sederhana tersebut menyediakan sarana penghidupan tambahan.” Dalam tradisi Minangkabau, minuman dari daun kopi ini dikenal dengan aia kawa.
Pada tahun 1789, tulis Dobbin, kopi sudah tercatat tersedia di pasar Padang, kemungkinan sebagai komoditas perdagangan internal. “Di desa-desa perbukitan dataran tinggilah kopi tumbuh paling baik, dan tidak ada keraguan bahwa desa-desa ini segera memasuki perdagangan tersebut, memanfaatkan rute lama dari Agam turun ke Pariaman, yang kemudian kopinya dikirim lebih jauh ke selatan ke Padang melalui laut.”
“Desa-desa di lereng Agam di Gunung Merapi dan Gunung Singgalang, serta desa-desa di wilayah pegunungan utara antara Tanah Datar dan Limapuluh Kota di sekitar Gunung Sago dan Gunung Gabus merupakan pembudidaya kopi paling awal untuk ekspor.”
Islam ke Bengkulu
Ihwal sekitar masuk dan berkembangnya Islam ke Bengkulu, tulis Rohimin dkk, berdasarkan catatan sejarah, sulit diambil kesimpulan kapan tepatnya Islam masuk pertama kali ke Bengkulu. “Jika dicermati masa masuknya Islam ke Bengkulu, baik yang masuk dari Aceh, Pagaruyung, maupun Banten, maka diperkirakan antara abad XV sampai XVI. Jika dicermati dari fakta aspek sosial budaya yang ada dan berkembang di Bengkulu, lebih dekat dari Pagaruyung (abad XVII).”
Melalui Minangkabau (Sumatera Barat), tulis Ismail, Islam masuk ke wilayah Bengkulu melalui proses pernikahanan antara Sultan Muzaffar Syah, Raja dari Kerajaan Indrapura dengan Putri Serindang Bulan, putri Raja dari Rio Mawang dari Kerajaan Lebong (1620-1660). Kemudian diperkuat dengan datangnya Bagindo Maharaja Sakti dari Kesultanan Pagaruyung pada abad ke-16 dan menjadi Raja Sungai Lemau, Kesultanan Mukomuko yang berada di bawah pengaruh Kesultanan Indrapura Sumatera Barat.
“Ulama Minangkabau dalam kaitannya dengan proses Islamisasi masyarakat dan pengembangan pendidikan di Bengkulu, masih berlangsung secara terus menerus dalam rentang waktu yang sangat panjang mulai dari abad XVII sampai abad XXI.”
Dalam kaitan dengan Islamisasi di Bengkulu oleh ulama Minang, tulis Ismail, tercatat Syekh Burhanuddin Ulakan yang merupakan salah satu pendakwah Islam di Minangkabau dengan tarekat Syattariyahnya sudah sampai ke Bengkulu dalam masa hidupnya. “Sampai saat ini tarekat Syattariyah masih eksis di Curup dan Mukomuko. Selain jalur tarekat Syattariyah, Islamisasi awal di Bengkulu juga dilanjutkan oleh kelompok- kelompok tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang para muridnya mengembangkan surau suluk di Mukomuko, Bengkulu Tengah dan Rejang Lebong.”
Segelas Kawe(o) untuk Diskusi
Catatan-catatan menunjukan bahwa kopi yang berasal dari Etiopia perlahan menjadi minuman kaum sufi untuk berzikir di Yaman, lalu menyebar ke dunia Islam dan non-Islam. Di Bengkulu, kendati belum diketahui kapan pertama kali diperkenalkan, kemungkinan besar pengenalannya bukan oleh Inggris dan Belanda, melainkan oleh penyebar Islam dari Minangkabau untuk keperluan zikir dan membangun kemandirian ekonomi surau sebagai basis penyiaran Islam. Kopi kemudian diadopsi secara sukarela oleh penduduk dan secara bertahap menjadi bagian integral kehidupan ekonomi, ekologis, sosial-budaya, dan politik. (**)

