Perempuan Petani Kopi dari 20 Desa Surati Bupati Minta Fasilitasi Bangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

Sebanyak 40 orang perempuan petani kopi dari 20 desa di Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong menandatangani surat permintaan kepada bupati agar memfasilitasi para perempuan petani kopi di desa mereka membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim. Mereka menandatanganinya dalam diskusi terfokus yang diadakan oleh Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di empat lokasi terpisah pada Agustus 2025.

Perempuan petani kopi di Desa Tebat Tenong Luar, yang tergabung dalam Koppi Sakti Bengkulu, bergotong royong membuat pupuk organik di lubang angin dengan memanfaatkan mulsa organik.

Dalam membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim, mereka bersepakat untuk menerapkan kembali sejumlah kearifan/praktik lokal dalam pengelolaan kebun kopi yang sejalan dengan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kearifan/praktik lokal tersebut antara lain: menerapkan pola polikultur, tidak membakar, melainkan memanfaatkan rerumputan, dedaunan dan reranting pohon kopi dan pohon lainnya (termasuk sekam kopi) sebagai mulsa organik dan pupuk organik, menggunakan pestisida nabati, serta membuat lubang angin (mini rorak) dan kolam penampungan air hujan.

Dampak Negatif Terhadap Kopi dan Peremppuan Petani Kopi

Langkah membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dinilai sangat krusial untuk mengatasi berbagai dampak negatif perubahan iklim terhadap kopi dan perempuan petani kopi. Terhadap kopi, dampaknya antara lain: batang kopi mudah tercerabut, batang dan ranting mudah patah, mati pucuk, daun menguning, bunga menjadi sedikit, bunga dan putik rusak dan gugur, buah busuk sebelah, biji berlubang, dan mudah diserang hama dan penyakit baru.

Terhadap perempuan petani kopi antara lain: menghambat perawatan kebun, pemanenan dan pengolahan hasil panen, memperberat beban pengelolaan keuangan rumah tangga, meningkatkan kerentanan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, memperbesar potensi mengalami stres dan depresi, dan berpotensi menghilangkan tradisi ganti hari, menyemang kopi dan tradisi lainnya.

Perempuan petani kopi di Desa Mojorejo, yang tergabung dalam Koppi Sakti Bengkulu, memupuk kopi dengan pupuk organik yang dipanen dari lubang angin.

Untuk menyerahkan surat permintaan perempuan petani kopi dari 20 desa tersebut, sekaligus dokumen Rekomendasi Kebijakan, Koppi Sakti Bengkulu akan menemui Bupati Kepahiang dan Bupati Rejang Lebong. “Kami sudah menyampaikan surat permohonannya. Kami berharap Bupati Kepahiang dan Bupati Rejang Lebong bersedia menerima kami,” kata Ketua Koppi Sakti Bengkulu, Supartina Paksi, baru-baru ini.

Untuk diketahui, 20 desa tempat tinggal 40 perempuan petani kopi tersebut adalah Pulo Geto, Pulo Geto Baru, Durian Depun, Simpang Kota Bingin, Bukit Barisan, Suro Muncar, Suro Baru, Pekalongan, Tanjung Alam, Air Hitam, Air Bening, Pal VII, Pal VIII, Babakan Baru, Bangun Jaya, Karang Jaya, Sumber Bening, Sambirejo, Talang Lahat, dan Cawang Lama.

Empat Desa Sudah Memulai

Sejauh ini, sudah 257 orang perempuan petani kopi di 4 desa di Kepahiang dan Rejang Lebong mulai membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim di kebun kopi seluas 292 hektare. Di Kepahiang, sebanyak 73 orang di Desa Batu Ampar (66 hektare) dan 73 orang di Desa Pungguk Meranti (83 hektare). Di Rejang Lebong, sebanyak 52 orang di Desa Mojorejo (66 hektare) dan 59 orang di Desa Tebat Tenong Luar (77 hektare).

Langkah memulai membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dilakukan dengan membuat sedikitnya 150 unit lubang angin (panjang 30 cm, lebar 30 cm dan kedalaman 30 cm) per hektare, menanam sedikitnya 50 batang bibit (nangka, alpukat, durian, jengkol, petai dan kabau) per hektare, menanam cabai dan jahe, menggunakan mulsa organik dan pupuk organik, dan membuat tempat penampungan air hujan.

Dampak Positif

Meskipun masih dalam proses, dampak positifnya sudah terlihat dan dirasakan. Terkait kopi antara lain: batang kopi lebih kokoh, ranting lebih panjang, dedaunan lebih rimbun, warna dedaunan lebih hijau, bunga lebih lebat, bunga dan putik buah lebih lengket, buah lebih lebat, buah busuk sebelah dan biji berlubang berkurang, kulit buah lebih mengkilap, dan buah lebih padat atau terasa lebih berat.

Perempuan petani kopi juga merasa lebih optimis menjalani kehidupan dan menata masa depan, hubungan dengan suami lebih harmonis, lebih nyaman dalam berkebun dan menjalani kehidupan berkeluarga, semakin bangga mengaku sebagai perempuan petani kopi, dan semakin percaya diri untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. “Kami ingin perempuan petani kopi lainnya juga bisa melihat dan merasakannya,” kata Supartina.

Bupati Rejang Lebong, Fikri Thobari, Ketua DPRD Rejang Lebong, Juliansyah Yayan, dan Wakil Bupati Kepahiang, Abdul Hafizh di sela-sela menghadiri launching Pusat Usaha dan Pendidikan Koppi Sakti Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kepahiang

Rekomendasi

Dalam dokumen Rekomendasi Kebijakan yang akan diserahkan, Koppi Sakti Bengkulu mengungkapkan, perhatian pemerintah daerah terhadap perempuan petani kopi cenderung terfokus pada aspek pengolahan hasil panen dan pemasaran. Sedangkan terkait aspek pengelolaan kebun kopi nyaris tidak ada. Padahal, perempuan petani kopi memiliki hak, tanggung jawab, kepentingan dan peran dalam pengelolaan kebun kopi.

Oleh karena itu, Koppi Sakti Bengkulu merekomendasikan agar pemerintah daerah membuat kebijakan dan program pemberdayaan perempuan petani kopi untuk membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim. Implementasinya dapat dilakukan dengan memfasilitasi pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pemberian bantuan, serta pengembangan jaringan dan mitra. “Kami berharap pemerintah daerah bersedia,” ujar Sekretaris Koppi Sakti Bengkulu, Mercy Fitry Yana. (**)

Related Posts

Aksi Iklim di Pesisir dan Kelautan Masih Hadapi Tantangan Lokal dan Global

Banyak penduduk Indonesia belum memahami dampak perubahan iklim. Survei pada tahun 2019, menempatkan Indonesia sebagai negara paling tertinggi tidak percaya pada perubahan iklim. “Misinformasi dan ketidaktahuan menjadi…

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun…

Enggan Menjadi Korban Sunyi Bencana Senyap Krisis Iklim

Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. “Di sini lebih banyak,” katanya pelan seolah enggan memberitahukan. Buah-buah kopi hijau muda dan hijau…

Memanggil Kembali Roh Menanam Padi Riun: Ikhtiar Merawat Kedaulatan Pangan di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah,…

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Satu Per Satu Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan…

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat…

This Post Has 2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *