Pertahankan Kebun, Perempuan Serawai Petani di Pino Raya: Lum Mati, Lum ke Jerau!

Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis.

Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang sedang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan seghudung itu, seketika memecah obrolan.

Sambil menatap lurus ke arah pohon kopi di lawang pepohonan sawit, jemari tangan kanannya, yang bertumpu di lutut kanan, menggenggam erat tali ambung berisi parang, pakaian kerja, serta bekal makan dan minum, sementara jemari tangan kirinya, yang bertumpu di lutut kiri, terkepal rapat.

Lum mati, lum ke jerau,” timpal Neptasari.

Sembari menoleh ke kiri untuk memandang Ilis, perempuan dua anak kelahiran 1992 yang berjongkok di potongan batang kayu yang sama itu perlahan menganggukkan kepala. Jemari tangan kanan dan kirinya, yang bertumpu di atas masing-masing lutut, mencengkeram erat bagian atas ambung miliknya yang juga berisi parang, pakaian kerja, serta bekal.

“Belum mati, belum akan mundur,” sambung Yuhiti yang jongkok di atas tanah, sekitar tiga meter secara diagonal dari sebelah kiri Ilis, di dekat tiang atap sudut kiri depan seghudung. Dengan menatap lurus ke arah barisan ubi kayu yang tumbuh subur di lawang pepohonan kelapa sawit, kedua tangan janda tiga anak kelahiran 1970 itu memeluk erat lutut kirinya.

“Itulah prinsip kami dalam memperjuangkan tanah kami, kebun kami,” ujar Suarni Megawati, sembari perlahan menggeser pandangan dari rerumputan ke arah ambung yang dipegang erat oleh Neptasari.

Dengan jemari tangan kiri, yang bertumpu di lutut kiri, terkepal rapat, sementara jemari tangan kanan memegang erat bagian atas ambung berisi parang, pakaian kerja, serta bekal, janda dua anak kelahiran 1980 ini berjongkok di atas tanah sekitar satu meter di depan Yuhiti.

Wipa, yang berjongkok di atas tanah tepat di sebelah kanan Yuhiti dengan kedua tangan menyilang di atas lutut, serta Ida, yang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar paha orang dewasa sekitar satu meter di sebelah kiri Suarni dengan posisi tangan serupa, perlahan mengangguk serempak.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Wipa, janda empat anak kelahiran 1980, dan Ida, perempuan empat anak kelahiran 1990 itu, terus menatap tajam ke arah barisan ubi kayu, kopi, serta rerumputan yang tumbuh subur di lawang pepohonan kelapa sawit di hadapan mereka.

Neptasari, Yuhiti, Ida, Suarni, Wipa dan Ilis dengan ambung masing-masing di depan seghudung di kebun Yuhiti bersiap ngambiak ari.

Ngambiak Ari

Kamis (18/6/2026) siang itu, Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, dan Ida akan melakukan ngambiak ari di kebun Yuhiti. Saya, bersama Kepala Divisi Advokasi Walhi Bengkulu, Julius Nainggolan, berkesempatan mengikuti kegiatan sebagian perempuan Serawai petani yang mempertahankan kebun mereka dari cengkeraman perusahaan sawit itu, berkat ajakan Direktur Walhi Bengkulu, Dodi Faisal.

Kami tiba di kebun Yuhiti setelah berjalan kaki selama hampir satu setengah jam. Berangkat secara berombongan sekitar pukul 08.30 dari rumah Yuhiti, kami melintasi jalan beton desa dan jalan aspal lintas Pino Raya–Pagar Alam, Sumatera Selatan, lalu menapaki jalan setapak berlumpur yang membelah kebun-kebun sawit serta aliran Sungai Air Suban.

Medan yang kami lalui cukup bervariasi: mulai dari jalan datar, tanjakan landai hingga yang terjal dengan kemiringan mencapai hampir 60 derajat, serta turunan yang curam maupun landai. Di tengah perjalanan, kami sempat beristirahat selama 15 menit di bawah pohon kemang di puncak Pematang Cigin, yang lingkar batangnya melebihi rentangan tangan dua orang dewasa yang saling bergandengan melingkar. Dari puncak tersebut, terlihat lembah yang perlahan berubah menjadi hamparan pepohonan kelapa sawit.

Ngambiak ari dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu, yakni setiap Senin dan Kamis, dengan lokasi kebun yang bergiliran,” ujar Wipa sembari berdiri dan melangkahkan kaki mengambil dan mendekatkan ambung miliknya, juga berisi sebilah parang, pakaian kerja, serta bekal, yang berada di samping belakang kanan Suarni.

“Selain mempercepat pekerjaan di kebun dan memperkuat solidaritas, ngambiak ari penting dilakukan dalam menghadapi kedatangan pihak perusahaan ke kebun,” tambah Suarni, tetap dengan jemari tangan kiri terkepal rapat dan jemari tangan kanan memegang erat bagian atas ambung.

“Kalau ada masalah, kami bisa saling membantu,” sambung Yuhiti. Sambil menggerakkan tangan kanannya dari lutut, mengambil jilbab kain ungu di lutut kirinya, lalu mengibas-ngibaskannya ke arah wajahnya, Yuhiti menambahkan, “Misalnya ada pihak perusahaan datang ke kebun mau melarang bekerja atau mau menebang tanaman, kami bisa bersama-sama menghadapinya.”

“Dulu, kami sering kocar-kacir berlarian, menghindar, dan bersembunyi di semak belukar di pinggir kebun setiap kali pihak perusahaan datang,” timpal Ida, lalu menggeser ambung miliknya, yang juga berisi sebilah parang, pakaian kerja, serta bekal, dari sebelah kanan kakinya, kemudian mendekapnya dengan kedua tangan di depan kedua kakinya.

“Seiring waktu, kami akhirnya bersepakat untuk tidak berlari lagi, tetapi harus menghadapinya,” kata Ilis. Sembari melepaskan genggaman jemari kanannya dari tali ambung, lalu menyilangkan kedua tangan di atas kedua lutut di bawah jilbab kain cokelat yang dikenakannya, Ilis melanjutkan, ”Kami berpikir, menghadapi pihak perusahaan tidak akan membuat kami mati.”

“Sekarang kami juga sudah berani melarang pihak perusahaan masuk ke kebun. Berhenti! Berhenti! Ini tanah kami, ini kebun kami!” seru Neptasari, menirukan teriakan mereka saat memergoki pihak perusahaan datang.

“Kami pernah beramai-ramai, bersama ibu-ibu lainnya dan petani laki-laki, menghadang pihak perusahaan yang membawa buldozer ke kebun,” tambah Neptasari sambil menggeser jemari tangan kanan dan kirinya yang memegang bagian atas ambung hingga saling berhimpitan.

Suarni, Ilis, Yuhiti, Ida, Neptasari, dan Wipa berjalan pulang ke rumah dengan mengambin ambung berisi pisang ambon, pisang jantung kembang, pisang masak semalam, dan pisang jantan yang dipanen di kebun Neptasari, Ratma, dan Wayu.

Tanam Beragam Tanaman di Lawang dan Matau Limau

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 10.40. Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, dan Ida baru tersadar bahwa mereka harus melakukan Ngambiak Ari untuk menebas rerumputan. Sembari mengenakan pakaian kerja yang diambil dari ambung masing-masing, mereka sempat membahas gagasan untuk menanam sayuran, rempah, dan buah-buahan di lawang dan matau limau pepohonan sawit.

“Apa yang kita bahas tadi malam, menanam terong, tomat, cabai rawit, jahe, kencur, kunyit, serai, lengkuas, kacang, ubi, atau lainnya di lawang dan matau limau, perlu kita coba,” ujar Ilis sambil menyelipkan sarung parang serta parangnya di sisi kiri pinggang pada gulungan kain hijau yang melingkar di pinggangnya.

“Selain sayuran dan rempah, kita juga perlu menanam pisang, pepaya, alpukat, nangka, durian, jengkol, kopi, atau pohon lainnya di lawang dan matau limau,” timpal Wipa setelah selesai mengenakan kemeja lengan panjang bermotif garis-garis cokelat tua, cokelat muda, dan krem untuk melapisi kaus putih lengan pendek yang dipakainya sejak dari rumahnya.

“Jadi, kebun kita tidak hanya ditanami satu jenis tanaman saja,” tambah Wipa sambil mengambil parang dari ambungnya.

“Sepakat…, sangat sepakat…, setuju…, sangat setuju,” timpal Ida, Suarni, Neptasari, dan Yuhiti bersahutan. Sembari mengangguk-angguk, Ida dan Suarni mengambil parang dari ambung, sementara Neptasari dan Yuhiti mengambil serta menyelipkan sarung dan parang mereka ke sisi kiri gulungan kain yang melingkar di pinggang.

Setelah siap, mereka pun bergerak dari seghudung menuju lawang pepohonan sawit, lalu mulai bekerja dari bagian bawah, merangkak perlahan ke arah kebun yang menanjak. Sambil terus mengayunkan parang dari kanan ke kiri, mereka berbagi cerita.

Sesekali, tawa mereka pecah, menyela suara tebasan ke rerumputan di tengah teriknya matahari. Aroma rumput yang baru ditebas dan terinjak, bercampur dengan bau tanah yang lembap, perlahan menguap serta menyusup ke indra penciuman.

“Pohon kopi jangan ditebang. Jangan sampai seperti orang perusahaan yang pernah menebang semua pohon kopi saya,” kata Yuhiti sembari menebas rerumputan di dekat salah satu pohon kopi yang di sela-sela daunnya mulai bermunculan putik bunga.

“Kalau saja tidak ditebang, tahun ini mestinya sudah bisa panen kopi. Dedek dan Julius mungkin bisa menyicipnya,” sambung Yuhiti. Ia berhenti sejenak, menegakkan tubuh, memindahkan parang ke tangan kiri, lalu tangan kanannya menyentuh dedaunan pohon kopi seolah membelainya, sembari tersenyum kecil.

Suarni, Ilis, Yuhiti, Ida, Neptasari, dan Wipa melintasi jalan menanjak sembari membawa ambung berisi pisang.

Kebun: Identitas dan Ruang Hidup

“Tanpa tanah atau kebun, kami bukan petani, bukan perempuan petani,” kata Pipa Lia Putriana yang duduk berselonjor di atas tumpukan karpet plastik biru dan oranye saat berdiskusi bersama Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi Sismiati, Yupi, dan Hartati pada Rabu (17/6/2026) malam.

Dalam diskusi di ruang tengah rumah Yuhiti itu, saya dan Julius juga diberi kesempatan untuk terlibat dan duduk membentuk persegi panjang bersama mereka.

“Kami memang bisa bekerja, misalnya mencari upahan di kebun orang, tetapi itu bukan sebagai petani, melainkan buruh tani,” tambah Pipa, yang duduk di sebelah kanan Yuhiti di baris kanan, perlahan mengangkat tangan kanannya, lalu memegang kepalanya yang mengenakan jilbab kain cokelat tua.

Mendengarnya, tanpa aba-aba, Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi Sismiati, Yupi, dan Hartati menganggukan kepala secara serempak. Suarni, yang duduk bersila di atas karpet plastik berwarna-warni bercorak beragam di baris kiri sembari menyandarkan badannya pada kursi busa kayu di belakangnya, langsung menambahkan, “Tanah atau kebun adalah sumber kehidupan dan penghidupan kami, perempuan petani.”

“Kebun itu seperti anak. Kami menyayangi kebun seperti kami menyayangi anak. Makanya, hampir setiap hari kami mendatangi kebun untuk merawatnya,” ujar Wipa yang duduk berselonjor di atas karpet plastik biru di sebelah kiri Suarni dan di depan kaki Ilis yang duduk di kursi. “Tidak ke kebun beberapa hari saja, rasanya ada yang hilang, ada rasa rindu,” sambung Wipa.

“Di kebun sendiri, kami bebas mau menanam apa saja,” kata Ilis sembari menggoyang-goyangkan kedua kakinya ke kanan dan ke kiri. “Kami bisa menanam bermacam-macam tanaman, bukan hanya untuk dijual, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan dibagikan kepada tetangga kebun maupun di desa,” sambung Ilis.

Neptasari, yang duduk di atas karpet plastik biru di sebelah kiri Wipa, sembari menyelonjorkan kaki kanan dan menyilangkan kaki kirinya, juga menambahkan, “Dengan menanam bermacam-macam tanaman, terutama sayuran, rempah, dan buah-buahan, bukan hanya bisa menambah pendapatan, tetapi juga bisa mengurangi pengeluaran.”

“Makanya, kita perlu membentuk kelompok. Dengan berkelompok, kita bisa merancang rencana mau menanam tanaman apa saja di kebun kita, selain sawit,” sambung Pipa, yang direspon dengan anggukan serempak Yuhiti, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi, Yupi, dan Hartati.

Yuhiti, yang duduk berselonjor di atas karpet oranye sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menambahkan, “Dengan adanya rancangan tersebut, maka ngambiak ari tidak lagi hanya untuk menebas. Kita juga bisa ngambiak ari untuk menanam, merawat tanaman, atau lainnya.” Sekali lagi, tanpa aba-aba, Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, Dimi, Yupi, Hartati, serta Pipa mengangguk serempak.

Pipa Lia Putriana menghidupkan perapian di bawah anjung di kebunnya.

Semoga Allah Membuka Nurani Hakim

Kedua mata Pipa seketika berlinang air mata, dan wajahnya perlahan memerah. Tangan kanannya, yang menggenggam sebilah parang, memukul-mukul pelan tanah serta tumpukan kayu yang mulai terbakar di perapian di bawah anjung kebunnya. Sementara itu, tangan kirinya berulang kali mengusap kedua mata dengan lengan baju kaus panjang merah yang dikenakannya.

Ia menghidupkan perapian untuk mengusir nyamuk di sekitar anjung kebunnya, tak lama setelah ia bersama suaminya yang merupakan Ketua Forum Masyarakat Pino Raya (FMPR), Edi Hermanto, Arman, Julius, dan saya tiba di kebun pada Rabu (17/6/2026) siang.

Setelah beberapa saat tak kuasa berkata-kata, Pipa akhirnya membuka mulut. “Bingung dan sedih,” ujar perempuan tiga anak kelahiran 1987 ini, yang tak lagi memukul-mukul pelan tanah dan tumpukan kayu, tetapi mengesek-gesekan ujung parang ke tanah bekas pukulannya. “Suami saya kena tembak, tapi malah jadi tersangka,” sambung Pipa.

Pipa, yang duduk di atas bangku kayu kecil dengan kedua kaki bersilang, tak langsung melanjutkan pembicaraan. Sembari berupaya menahan isak tangis, matanya yang berlinang air menatap tajam ke arah tanah yang telah membentuk garis lurus berlubang akibat gesekan parang. Beberapa saat kemudian, ia pun berkata, “Semoga suami saya bebas. Mohon didoakan suami saya bebas.”

“Semoga Allah mau membuka nurani para hakim,” tambah Pipa pelan berharap, sembari terus menahan isak tangis.

Beberapa saat setelah air matanya berhenti mengalir, Pipa mengungkapkan bahwa dirinya tak menyesali keputusan suaminya yang menerima kepercayaan menjadi ketua FMPR, meski akhirnya sang suami menjadi korban penembakan dan justru ditetapkan sebagai tersangka. “Dalam perjuangan, pasti ada rintangan,” kata Pipa sembari berdiri dari duduknya dengan tetap memegang parang.

Sambil melangkah menuju ke tengah kebunnya untuk memanen pisang sabo dan pisang panjang, Pipa melanjutkan, “Apalagi perjuangan ini untuk banyak orang, terutama bagi kami yang memiliki suratan tangan menjadi petani.”

Terpisah, Suarni, saat berada di seghudung kebun Yuhiti pada Kamis (18/6/2026) siang, juga tak kuasa menahan air matanya mengalir perlahan ketika mengingat peristiwa penembakan dan penetapan dirinya sebagai tersangka. “Kejam. Saya yang nyaris menjadi korban penembakan malah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Suarni.

“Saya ini adalah seorang janda yang harus menghidupkan dua orang anak,” sambung Suarni yang berulang kali menggerakkan tangan kanannya untuk mengelap air mata yang mengalir di pipi dengan ujung jilbab biru muda yang dikenakannya.

Suarni juga tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika nantinya hakim tidak membebaskannya. “Dengan wajib lapor setiap Senin dan Kamis saja, saya sudah terhambat untuk berkebun. Bagaimana jika saya tidak bebas?” kata Suarni sembari mengubah duduknya dari jongkok menjadi bersila di atas tanah serta menggeser posisi duduknya sedikit ke kanan.

Sementara itu, Yuhiti, saat berada di seghudung kebunnya pada Kamis (18/6/2026) siang, mengaku masih menyimpan luka mendalam atas penetapan status tersangka terhadap suaminya, Suharnudin, yang notabene adalah korban penembakan. Bukan hanya melukai harga diri, penetapan status tersangka ikut memperburuk kondisi kesehatan Suharnudin pascapenembakan.

Hingga Suharnudin mengembuskan napas terakhir, status tersangka masih terus melekat pada namanya. “Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal,” kata Yuhiti dengan suara parau yang tak kuasa menahan isak tangis.

Tanpa aba-aba, secara serempak Ilis, Neptasari, Suarni, Wipa, dan Ida merespon dengan ucapan, “Amin Ya Allah.”

Related Posts

Mutigh Kawe(o): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Membaca lima belas kata terakhir dalam kalimat Steven Topik seketika meretakkan dinding pengetahuan saya tentang sejarah kopi di Indonesia. Saya sisir ulang kalimat itu untuk menahan agar…

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun…

Enggan Menjadi Korban Sunyi Bencana Senyap Krisis Iklim

Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. “Di sini lebih banyak,” katanya pelan seolah enggan memberitahukan. Buah-buah kopi hijau muda dan hijau…

Memanggil Kembali Roh Menanam Padi Riun: Ikhtiar Merawat Kedaulatan Pangan di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah,…

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Satu Per Satu Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan…

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *