“Selama ini, kita menganggap kawo dan kebun kawo biasa saja,” ujar Harwan Iskandar yang bersila di tepi kiri terpal plastik oranye yang dibentangkan di pinggir kanan kebun kopinya di Desa Batu Ampar, Kepahiang, Minggu (12/7/2026) siang, saat akan memulai Kedurei Kawo.
“Padahal, mereka luar biasa.”
“Mereka telah memberikan banyak hal untuk kehidupan kita dan keluarga kita,” sambung Harwan.
Ia lalu menolehkan kepalanya dari kiri ke kanan, memandang satu per satu wajah Siti Hermi, Dewi Herlinda, Supartina Paksi, Zainuddin, Amron, dan Syamsir Alamsyah yang juga duduk bersila membentuk huruf U di tepi terpal plastik oranye.
“Namun, kita justru tidak memperlakukan mereka secara istimewa.”
“Kedurei kawo ini adalah ikhtiar kita untuk memperlakukan mereka secara istimewa sebagai wujud kasih sayang kita,” kata Harwan.
Suaranya seketika agak tenggelam oleh nyaring kicau burung madu, percang, dan kecici bersahutan dari rimbun pepohonan kopi, yang bunga putihnya bermekaran sempurna di antara hijau dedaunan yang berjejer di sepanjang ranting-ranting.
“Kedurei kawo ini juga merupakan ikhtiar kita untuk mengapresiasi kebaikan leluhur yang mewariskan kawo dan cara-cara luhur dalam berkebun kawo,” lanjut Harwan setelah kicau burung-burung tersebut tak terdengar lagi.
Ia tidak langsung melanjutkan ucapannya. Ia memindahkan tangan kanannya dari betis kanan yang tertutup sarung cokelat muda keemasan bercorak garis-garis cokelat tua dan krem, ke dada kirinya yang tertutup kaos berkerah lengan pendek bercorak garis-garis merah bata, abu-abu tua, dan abu-abu muda.
“Kedurei kawo ini adalah ikhtiar kita untuk bersyukur kepada Allah yang memberikan rezeki melalui mereka, memohon pengampunan dan perlindungan-Nya, serta berkomitmen menunaikan amanat-Nya.”

Do’a Bersama
Seketika Harwan menggerakkan kedua tangan ke depan dada dengan telapak tangan terbuka menghadap ke langit dan jari-jari tegak mengarah ke atas, lalu melafazkan ayat demi ayat Al-Quran dan dilanjutkan dengan memanjatkan doa.
Melihat gerakan tangan dan mendengar suara Harwan melafazkan ayat Al-Qur’an, Siti, Dewi, Supartina, Zainuddin, Amron, dan Syamsir ikut mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan telapak tangan terbuka menghadap ke langit.
Sembari menatap telapak tangan masing-masing penuh kekhusyukan dan mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa dengan khidmat, sesekali dari mulut mereka secara bergantian terdengar ucapan, “Aamiin…, Aamiin…, Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.”
Air Do’a
Usai menutup doa bersama, Harwan pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pepohonan kopi dengan melintasi pohon cabai rawit, pakis ikan, serai, katu, terong bulat, dan kunyit di sela-sela pepohonan kopi.
Tidak jauh dari lubang angin, pohon pisang, dan pohon res yang tingginya melebihi pohon kopi serta batangnya dirambat oleh lada, Harwan pun membungkuk ke bawah pohon kopi, lalu tangan kirinya mengambil sebuah cangkir kaleng putih kecil bermotif dua tangkai bunga merah-kuning dengan dedaunan hijau di atas lapisan mulsa alami di lantai kebun.
Cangkir itu berisi air yang sebelumnya telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan setangkai daun pakis ikan. Sambil menegakkan tubuh, tangan kanannya mengambil daun pakis, melafazkan basmalah, lalu memercikan airnya ke bunga-bunga kopi yang bermekaran sempurna di sela dedaunan pohon kopi sebanyak tiga kali.
Lalu, Harwan bergerak ke pohon kopi lainnya, yang juga tak jauh dari lubang angin, pohon pepaya yang tingginya melebihi tinggi pohon kopi, dan pohon alpukat setinggi pinggang orang dewasa, mencelupkan daun pakis ke air, melafazkan basmalah, memercikan air ke bunga-bunga kopi yang bermekaran sempurna sebanyak tiga kali, dan selanjutnya bergerak lagi mendekati pohon kopi lainnya, yang juga tak jauh dari lubang angin dan pohon durian yang juga setinggi pinggang orang dewasa, untuk mengulangi hal serupa.

Kawo Pait dan Kawo Manis
Setelah itu, Harwan kembali duduk bersila di atas terpal plastik oranye, lalu mempersilakan Siti, Dewi, Supartina, Zainuddin, Amron, dan Syamsir untuk menyantap nasi putih dan beragam menu yang disajikan dengan mengambilnya sendiri.
Harwan juga mengajak saya beserta tiga orang teman, Muhammad Ikhsan, Jamaludin Winarhadi Kusumo, dan Julius Nainggolan, yang diundang untuk menyaksikan ritual tersebut, duduk bersila di atas terpal yang membuat formasi duduk berbentuk huruf U menjadi lebih besar, untuk makan bersama.
“Lauk-lauk ini, ghebusan, sambal lecet, gegacang, dan ikan ampo bakar adalah lauk yang secara turun-temurun biasa dimasak dan dikonsumsi di kebun kawo,” ujar Dewi, istri Harwan sembari membagikan satu per satu piring. Beragam lauk tersebut disajikan di dalam mangkok plastik hijau muda dan rantang kaleng putih bercorak bunga warna-warni di tengah terpal.
“Kalau ini adalah kawo pait dan kawo manis, dan ini adalah limping asin dan limping manis,” sambung Dewi sambil menggunakan jempol kanannya menunjuk dua cangkir kaleng putih kecil bermotif dua tangkai bunga merah-kuning dengan dedaunan hijau berisi kopi, serta piring kaca putih berisi limping asin berwarna putih kecokelat-cokelatan dan limping manis berwarna cokelat.
Perlahan, suasana di atas terpal pun menjadi ramai. Tidak hanya dihidupkan oleh obrolan yang sesekali diselingi tawa dan sahutan kicau burung madu, percang, dan kecici, yang melintasi serta hinggap sejenak di pepohonan kopi, tetapi juga oleh pekikan Harwan yang mengajak petani kopi lain ketika kebetulan melintas di sekitar kebunnya.

Amanat
Tak lama setelah kedurei kawo selesai, Harwan mengajak saya, Ikhsan, Jamaludin, dan Julius untuk ngobrol santai sembari menikmati aroma dan rasa khas kawo aik niro yang telah disiapkannya dengan duduk di barisan potongan batang berukuran dua kali paha orang dewasa di bawah pepohonan aren dan rumpun bambu di depan pondok pengolahan gula aren di kebun kopinya.
Di sela-sela obrolan, Harwan mengungkapkan, “Konsep Kebun Kopi Tangguh Iklim yang dikembangkan oleh Koppi Sakti Bengkulu menjadi pendorong saya dan istri untuk memulai kedurei kawo.”
Usai menarik napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan, Harwan melanjutkan, “Setelah direnungi, tidak sedikit cara kita berkebun kawo selama ini, yang telah meninggalkan cara-cara leluhur, ternyata membawa kita berbuat zalim di mata Allah.”
Harwan tak langsung melanjutkan obrolannya. Ia terlebih dahulu mengangkat cangkir kaleng putih bercorak dua tangkai bunga merah ke mulutnya dengan tangan kanan, lalu menyeruput kawo aik niro di dalamnya.
Setelah menyeruput kawo aik niro yang masih mengepulkan asap tipis, Harwan pun menurunkan tangan kanannya dan meletakkan kembali cangkir ke atas potongan pangkal pohon res yang dijadikan sebagai meja di depan pondok pengolahan gula aren tersebut.
Beberapa saat kemudian, barulah Harwan melanjutkan, “Misalnya saja, selama ini kita menganggap rumput sebagai pengganggu, lalu menyemprotnya dengan racun kimia agar cepat mati, yang ternyata turut mencederai atau bahkan membunuh makhluk lain serta merusak tanah.”
Harwan pun menambahkan, “Begitu pula dengan tanaman lainnya, kita juga menganggapnya sebagai pengganggu, bahkan menganggapnya sebagai pesaing dan perusak.”
“Jangankan mau menanam atau merawatnya, yang tumbuh secara alami saja dibunuh. Kita sama sekali tidak menganggap bahwa kawo membutuhkan tanaman lain sebagai teman yang bisa saling memberi manfaat,” tambah Harwan.
Harwan kembali tak langsung melanjutkan ucapannya. Ia mempersilakan saya, Ikhsan, Jamaludin, dan Julius untuk menyeruput kawo aik niro, sembari beranjak dari duduk, berjalan ke pondok pengolahan gula aren, mengecek api di tungku pengolahan gula aren, lalu mengaduk-aduk secara perlahan air nira yang mendidih di dalam kuali aluminium berdiameter selengan tangan orang dewasa.
Setelah kembali duduk di potongan batang, Harwan pun melanjutkan, “Kita juga memaksa kawo tumbuh di luar kodratnya dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Selain itu, kita juga enggan menyiapkan air dan makanan yang cukup secara alami dan berkesinambungan di dalam tanah untuk kawo supaya bisa hidup dengan layak.”
“Memanen kawo pun, kita memanen habis, tidak menyisakan untuk makhluk lainnya. Kita tidak memikirkan bahwa ada makhluk lain yang butuh kawo untuk dimakan untuk kelangsungan hidupnya. Bukankah hal seperti ini termasuk serakah?” ujar Harwan sembari bertanya.
“Kalau dikaji, masih banyak lagi cara kita berkebun kopi selama ini termasuk perbuatan zalim. Perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.”
“Setelah direnungi, cara kita berkebun kawo selama ini, yang telah meninggalkan cara-cara leluhur, telah menjadikan kebun tidak lagi sebagai rumah yang layak bagi kawo dan makhluk lain untuk hidup sebagaimana kodrat mereka, dan bertasbih kepada Allah,” sambung Harwan.
“Cara kita berkebun kawo selama ini, yang telah meninggalkan cara-cara leluhur, telah mengkhianati amanat Allah untuk merawat dan memakmurkan bumi.”
“Insya Allah, kedurei kawo ini akan dilakukan setiap tahun di Kebun Kopi Tangguh Iklim ketika bunga-bunga kawo bermekaran dengan sempurna.”
