“Bubugh (bubur). Wajib ada saat jamuan adat perkawinan di adat kami, orang Besemah Padang Guci. Tidak bisa tidak ada,” kata Endang Putriani (36), perempuan Besemah Padang Guci di Desa Bungin Tambun, Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur di beranda depan rumah Kepala Desa Bungin Tambun, Eklan Mudianto pada Kamis (31/7/25) malam.
“Kalau tidak ada bubugh, orang yang punya rumah atau yang punya hajatan bisa kesurupan. Bubugh yang disajikan sebanyak tiga piring. Satu piring bubugh putih yang terbuat dari tepung beras dan santan, dan dua piring bubugh abang (merah) terbuat dari tepung beras, santan dan gule abang (gula merah/gula aren),” ujar Endang.

Malam itu, Endang tidak sendirian. Dia bersama 17 orang perempuan Besemah Padang Guci di Desa Bungin Tambun lainnya. Mereka saling berbagi dan menguatkan pengetahuan mereka terkait peran perempuan dalam pemanfaatan berbagai bagian pohon enau atau aren dalam diskusi yang difasilitasi oleh Walhi Daerah Bengkulu.
Tidak hanya bubugh, kuliner lain yang berbahan gula aren yang wajib ada dalam adat perkawinan adalah buak, khususnya pada prosesi ngurusi rasan (hantaran). “Pihak calon pengantin laki-laki wajib membawa buak saat ngurusi rasan ke rumah calon pengantin perempuan,” kata Iti Marlianah (46).
Buak terbuat dari beras ketan, santan dan gula aren, dan dibungkus dengan daun pisang. “Kalau tidak membawa buak, kedatangan pihak calon pengantin laki-laki ke rumah calon pengantin perempuan pasti ditolak oleh pihak calon pengantin perempuan. Jadi, ngurusi rasan pasti membawa buak,” ujar Iti.
Kuliner lainnya adalah lemak manis dan ayik kince. Lemak manis terbuat dari kelapa parut dan gula aren, sedangkan ayik kince terbuat dari gula aren dan air. “Lemak manis dan ayik kince menjadi teman lemang yang dibawa calon pengantin laki-laki saat menjemput calon pengantin perempuan,” tambah Iti.

Menyambut Ramadhan dan Merayakan Idul Fitri
Di luar adat perkawinan, bubugh juga merupakan kuliner wajib dalam tradisi sedekah menyambut kedatangan bulan Ramadhan. “Hampir setiap rumah di sini melakukan sedekah bulan roh. Saat melaksanakan sedekah roh, pasti ada. Jumlahnya juga tiga piring. Bubugh putih satu piring, dan bubugh abang dua piring,” ujar Anita Pitriani (41).
Gula aren juga digunakan untuk membuat beragam kuliner khas tradisi yang disajikan saat merayakan lebaran (Idul Fitri) seperti mitai, gegelang, cucur atau lainnya, dan kuliner khas tradisi yang disajikan saat panen padi seperti serabi jadi dan cacei. “Gule abang (gula aren) sangat penting untuk membuat makanan adat dan tradisi,” kata Anita.
Para perempuan Desa Bungin Tambun tersebut tidak hanya mendiskusikan gula aren yang diolah dari air yang disadap dari bunga jantan (mayang) aren, mereka juga mendiskusikan bagian pohon aren lainnya dan pemanfaatannya. Seperti lidi untuk membuat sapu, daun muda untuk obat tradisional, daun tua untuk membuat kerajinan, beluluk (buah muda) untuk membuat beragam kuliner khas tradisi, umbut untuk membuat lauk khas tradisi, dan akar untuk membuat cairan pencegah hama dan penyakit padi.

Pendapatan Rumah Tangga
Selain penting bagi adat dan tradisi, pemanfaatan bagian pohon aren, terutama air yang disadap dari mayang yang diolah menjadi gula enau dan beluluk dari bunga betina yang dipanen dan diolah menjadi kolang-kaling, juga menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi warga Desa Bungin Tambun.
Sepertihalnya Rismi (66) yang menyadap air dari mayang sekaligus mengolahnya menjadi gula aren. “Sekali menyadap dari satu mayang bisa mendapatkan 10 buah gule abang (gula aren). Berat satu buahnya berkisar 5 – 6 ons. Harga satu buah Rp 10.000. Hasil menjualnya bisa untuk membeli berbagai keperluan rumah tangga,” kata Rismi pada Jumat (1/8/25).
Sebelumnya Rismi tidak menyadap air aren. Dia hanya mengolah air aren hasil sadapan suaminya. Dia mulai menyadap air aren sekitar sekitar 3 tahun lalu, setelah suaminya meninggal dunia. “Belajar dari mendengar dan melihat suami menyadap saat suami belum meninggal dunia,” ujar Rismi.
Melestarikan Aren di Hutan Desa
Kendati penting untuk adat dan tradisi, dan juga menjadi salah satu sumber pendapatan penting, namun warga Desa Bungin Tambun tidak membudidaya aren. Umumnya, enau tumbuh secara alami di kebun. “Tumbuh sendiri. Apakah akan ditebang atau mau dipelihara tergantung pemilik kebun,” kata Iti pada Jumat (1/8/25).
Sayangnya, sejak banyak warga Desa Bungin Tambun mengonversi kebun kopi yang berada di luar kawasan hutan menjadi kebun sawit, pohon aren yang tumbuh secara alami di kebun mulai ditebangi. “Dulu, biasanya petani membiarkan sekitar 2 – 5 batang pohon enau (aren) tumbuh di kebun. Kalau sekarang, sudah tidak banyak petani lagi yang membiarkan pohon enau (aren) tumbuh di kebun,” ujar Iti.

Menyikap hal tersebut, Anita yang juga anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bukit Puguk Desa Bungin Tambun akan mengajak perempuan anggota LPHD Bukit Puguk lainnya untuk melestarikan aren di areal Hutan Desa (HD) Bukit Puguk yang sedang diusulkan. “Selain bisa menjadi sumber pendapatan, pelestarian enau (aren) sangat penting terkait adat dan tradisi,” kata Anita pada Jumat.
Ada tiga lokasi yang potensi menjadi lokasi pelestarian aren di areal HD Bukit Puguk. Yakni, kebun kopi anggota atau penerima manfaat langsung HD Bukit Puguk, areal sekitar tepi sungai atau jurang, dan areal yang diperuntukan secara khusus untuk menanam aren. “Saya bersama ibu-ibu anggota dan penerima manfaat akan mendiskusikannya dengan pengurus dan anggota LPHD lainnya,” kata Anita.
Cegah Longsor
Saat diwawancara, Eklan yang juga Pembina LPHD Bukit Puguk merespon positif inisiatif tersebut. “Saya sangat mendukung. Bukan hanya penting untuk adat dan tradisi, pelestarian enau (aren) juga penting sebagai sumber pendapatan petani yang berkebun di HD Bukit Puguk, dan pelestarian HD Bukit Puguk itu sendiri. Bisa mencegah longsor dan banjir,” kata Eklan pada Jumat (1/8/25)
Eklan juga optimis pengurus dan anggota LPHD lainnya mendukung inisiatif tersebut, dan akan menjadikannya bagian dari rencana pengelolaan HD Bukit Puguk. “Tetua adat di Desa Bungin Tambun juga pasti mendukung. Memang gule abang (gula aren) bisa diperoleh dari mana saja, tapi sebaiknya gule abang (gula aren) yang digunakan untuk membuat bubugh, buak dan makanan tradisi lainnya berasal dari Desa Bungin Tambun,” kata Eklan.
Peran Perempuan dalam Pengelolaan Hutan
Terpisah, Direktur Walhi Daerah Bengkulu, Dodi Fasial, mengatakan akan mendukung inisiatif perempuan anggota LPHD Bukit Puguk untuk melestarikan aren di areal HD Bukit Puguk yang diusulkan. “Ada beberapa kegiatan yang bisa difasilitasi untuk mendukung. Seperti penguatan kapasitas, dialog dengan lembaga adat, pemerintah desa dan pengurus LPHD, dan kegiatan lainnya,” ujar Dodi ditemui di kantor Walhi Daerah Bengkulu pada Senin (4/8/25).
Manager Kampanye Walhi Daerah Bengkulu Ipen Sartika menambahkan, inisiatif perempuan anggota LPHD Bukit Puguk tersebut memperlihatkan bahwa perempuan bisa mengambil peran dalam pengelolaan hutan. “Jadi, perempuan tidak hanya berperan dalam pengolahan hasil hutan atau kebun di hutan, tetapi juga bisa mengambil peran dalam merencanakan pengelolaan hutan dan kebun di hutan,” kata Ipen. (**)
