Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu.

Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun ikut larut dalam kesunyian senja itu. Matanya menatap buku tulis bermotif batik dengan sulur dan bunga berwarna merah, cokelat, hijau dan kuning yang dipegangnya di depan kakinya yang bersila.

“Coba dari dulu kita mempertahankan cara-cara nenek moyang,” sambungnya pelan.

”Mungkin, ibarat kata, cuaca yang tidak karuan seperti sekarang ini tidak terjadi,” tambahnya. Tangannya mulai membolak-balik halaman buku tulis berisi riwayat hidup yang ditulisnya sendiri itu.

“Mungkin iklim yang tidak karuan tidak terjadi,” katanya dengan suara merendah. Tanpa diberi aba-aba, kepala Nurlela Wati, Supartina Paksi, Mercy Fitry Yana, Heni, Lena Sari Susanti, dan Julian Novianti seketika bergerak pelan ke atas dan ke bawah secara bersamaan.

“Kenapalah tidak dari dulu kita meneruskan cara-cara nenek moyang?” sambung Mercy pelan. Tangan kanannya bergerak menarik-ulur ritsleting tas cokelat bermotif kotak-kotak di depan kedua lututnya yang merapat miring.

“Mudah-mudahan semakin banyak perempuan petani kopi yang juga ingin menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang,” harapnya sembari tersenyum.

Kebun kopi yang dirawat dengan cara-cara yang dipelajari kembali dari ingatan dan pengalaman.

“Bergotong Royong Mengisi Beronang

Selasa sore (20/1/26) itu, kami berkumpul di saung Pusat Usaha dan Pendidikan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Kepahiang.

Sambil menyandarkan punggung ke dinding pelupuh bambu setinggi lengan orang dewasa, para penggerak Koppi Sakti Bengkulu dari Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong duduk bersila membentuk dua barisan yang saling berhadapan di atas karpet plastik cokelat muda bermotif batik.

Seolah bergotong royong mengisi beronang bambu kosong dengan hasil panen sementara, perempuan petani kopi dari Desa Batu Ampar, Pungguk Meranti, Tebat Tenong Luar, dan Mojorejo itu bergantian membagikan cerita perubahan yang terus berproses dalam perjalanan melingkar yang panjang dalam membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Lebat, Bernas dan Lengket

“Kalau kita ingin kebun kita bagus, kesehatan tanah harus dirawat,” kata Mercy.

“Ini pelajaran penting yang saya peroleh setelah berhenti meracun rumput, membuat lubang angin, membuat mulsa organik, menggunakan pupuk organik, dan menanam tanaman lain di kebun.”

“Dengan pulihnya kesehatan tanah, batang kopi menjadi lebih kokoh,” tambahnya sambil meletakkan lengan kanannya di kayu lis penutup bagian atas pelupuh.

“Daunnya juga lebih rimbun dan lebih hijau, serta mengkilap. Buahnya pun lebih lebat dan bernas, dan juga lengket, tidak mudah gugur meski diguyur hujan deras.”

“Sebelumnya, jarang sekali hasil panen buah selang bisa banyak. Paling banyak hanya dua karung,” tambah Julian.

“Kalau sekarang, jumlahnya berbeda,” kata Julian sembari meletakkan sikut di paha kaki kiri dan telapak tangan ke dagu.

“Hasil panen buah selang di kebun kopi saya baru-baru ini saja sudah tembus tujuh karung.”

Mercy menganggukkan kepalanya dan menimpali, “Jumlah hasil panen buah selang di kebun kopi saya juga bertambah.”

“Hasil panen baru-baru ini sudah tembus lima karung.”

Buah Selang Ringankan Pikiran

“Tahun yang sudah-sudah, bulan 11, bulan 12, bulan 1 adalah bulan-bulan genting,” Julian melanjutkan.

“Menjalani hari terasa sangat berat, serasa besok tidak ada hari lagi. Tapi, sekarang sudah tidak lagi terasa berat. Hasil panen buah selang sudah cukup meringankan pikiran,” tambahnya sambil tertawa kecil, yang diikuti tawa perempuan petani kopi lainnya.

“Biasanya, pada bulan-bulan itu, setiap hari harus cari lokak kerja harian di kebun orang,” Lena menimpali sembari terus tertawa kecil.

Sembari mengangkat tangan kanannya, lalu menggerakan jari telunjuknya ke kepalanya yang berbalut jilbab hitam berlis putih, ia melanjutkan, “Beban pikiran meningkat. Setiap hari mikir makan apa. Pagi mikir untuk sore, sore mikir untuk pagi.”

“Sekarang, sudah bisa menolak ajakan kerja harian di kebun orang,” tambahnya.

“Sekarang, setiap bulan ada hasil panen buah selang yang bisa kita peroleh,” sambung Nurlela. Sambil mengubah posisi duduknya dari bersila menjadi berselonjor, ia menambahkan, “Walau tidak banyak, tapi cukup untuk meringankan pikiran.”

“Sekarang sudah tidak perlu lagi cari kerja upahan di kebun orang,” kata Supartina pelan, sambil menggoyang-goyangkan lutut kanan yang didekap kedua tangannya.

“Cukup dari hasil kebun kopi kita sendiri saja.”

Tidak Lagi Makan Bunga Kopi

“Saya pernah punya pengalaman, baru sudah panen kopi, duitnya langsung habis karena harus membayar utang di sana dan di sini,” timpal Julian kembali tertawa kecil.

“Kalau kata orang, hasil panen habis di bawah batang.”

Sembari ikut tertawa, Heni menambahkan, “Bahkan, ketika bunga kopi baru muncul, terkadang juga sudah harus berutang untuk makan hari ke hari, yang dibayar setelah panen.”

“Ibarat kata, makan bunga kopi.”

“Sekarang sudah berbeda. Apalagi sudah tidak perlu lagi keluar uang atau berutang untuk beli racun rumput dan pupuk kimia,” tambahnya.

Sembari tangan kanannya mengurut-urut keningnya, ia melanjutkan, “Dalam setahun, biaya untuk beli racun rumput dan pupuk kimia itu berkisar tiga sampai empat juta rupiah.”

Tanaman Sela untuk Keberanian

“Hasil dari tanaman sela juga sangat membantu,” kata Supartina.

“Sekarang, sudah berani ngomong ke suami, ‘Pak, besok ajaklah orang, sekian orang, untuk kerja di kebun.’ Sebelumnya, mana berani ngomong seperti itu. Uang belanja saja menunggu dari suami.”

“Sebelumnya,” sambung Lena, “beli baju baru anak hanya saat Lebaran. Untuk membelinya pun terkadang harus cari pinjaman.”

“Kalau sekarang, kapan pun bisa beli baju baru untuk anak. Hasil panen cabai rawit beberapa kilogram saja sudah bisa,” katanya sembari tersenyum lebar.

Po’ong, Tighau, dan Ranti Berdatangan

“Cabai rawit di dekat lubang angin yang berisi mulsa organik untuk buat pupuk organik di kebun saya, suburnya bukan kepalang,” kata Mardalena. “Pohonnya tinggi, daunnya rimbun dan hijau mengkilap, dan buahnya lebat.”

Seraya meniru logat populer Jakarta, ia melanjutkan, “Suburnya kebangetan!” Seketika tawa pun pecah di saung itu.

Ketika tawa mulai mereda, Nurlela menambahkan, “Di sekitar lubang angin juga tumbuh po’ong (pakis). Sebelum-sebelumnya, sama sekali tidak pernah ada.”

“Hampir di sekitar semua lubang angin tumbuh po’ong,” timpal Heni. “Macam-macam pula jenisnya.”

“Di kebun saya juga banyak tumbuh macam-macam po’ong,” sambung Supartina. “Salah satunya po’ong ikan yang bisa dimakan. Rencananya saya mau ajak suami untuk memperbanyak.”

“Saya dan anak saya juga punya rencana yang mirip,” Nurlela melanjutkan. “Jika po’ong yang tumbuh itu tidak bisa dimakan, akan kami ganti dengan menanam po’ong yang bisa dimakan.”

“Mungkin karena tanah sudah lembap akibat air hujan yang tertampung di lubang angin terserap ke dalam tanah, makanya po’ong mulai tumbuh,” sambungnya. “Itu juga dampak setelah berhenti total menyemprot racun rumput.”

“Sejak berhenti menyemprot racun rumput, sekarang saya juga mulai sering ketemu tighau (jamur) yang tumbuh di batang pepohonan dan batang kopi yang mati,” kata Heni. “Sebelum-sebelumnya, tidak pernah ada.”

Sembari jari jemari tangan kanannya memukul-mukul lembut paha kaki kanannya, ia melanjutkan, “Ada tighau cecurut, tighau kukuran, tighau kuping, tighau mato kebau, tighau jelemak, tighau bungo kupi, dan lainnya. Selain untuk lauk di kebun, saya juga sudah mulai sering membawa tighau pulang.”

“Di tempat kami juga mulai tumbuh banyak tighau,” timpal Julian. “Selama ini kita selalu meracun rumput, jadi tighau tidak mungkin tumbuh. Setelah tidak meracun rumput lagi, tighau mulai mau tumbuh.”

Ranti rimbo juga mulai banyak tumbuh,” kata Lena. “Kalau masih meracun rumput, tidak akan tumbuh ranti rimbo.”

“Di tempat kami, lumai juga mulai tumbuh alami,” timpal Mercy.

“Selain untuk lauk keluarga, hasil manennya juga bisa dijual,” Lena melanjutkan. “Sekarang ini, kalau saya pulang dari kebun, anak saya sering menanyakan apa yang saya bawa untuk dia bisa jual ke tetangga. Untuk uang jajannya.”

 Sembari bercanda, ia melanjutkan, “Kalau ibu-ibu mau beli, silakan pesan. COD!” Seketika tawa kembali pecah di saung itu.

 “Ibu-ibu juga boleh datang ke kebun saya untuk mramban,” kata Heni ikut bercanda, sembari menggeser piring melamin putih bermotif jalinan hijau berisi gorengan ke tengah. Suara tawa pun semakin ramai.

Menemukan jalan pulang merawat kebun kopi dengan cara-cara yang dipelajari kembali dari ingatan dan pengalaman.

Tahi Gelang Bermunculan

Ketika tawa mereda, Mardalena menambahkan, “Di lubang angin juga banyak terlihat akar baru, putih-putih, akar baru kopi.”

“Selain itu, di sekitar lubang angin dan mulsa organik juga bermunculan, kalau kata orang, tahi gelang. Tahi cacing tanah yang berukuran besar.”

“Benar, banyak tumbuh akar serabut kopi baru,” timpal Nurlela.

“Selain karena lembap, dan banyak makanan karena mulsa organik di lubang angin sudah jadi pupuk, sepertinya dinding lubang angin juga memudahkan akar bernapas, sehingga mengundang tumbuh banyak akar serabut baru.”

“Dulu, nenek atau ibu ngomong, kalau muncul tahi gelang, itu tandanya tanah subur,” sambung Supartina. “Dengan bermunculan banyak tahi gelang, itu tandanya tanah di kebun kita sudah subur lagi, sudah sehat lagi.”

Rumput Tumbuh Kembali, Ganti Hari Hidup Kembali

“Sebelumnya juga banyak rumput yang tidak tumbuh,” sambung Heni. “Sekarang, mulai tumbuh lagi, seperti rumput angit, rumput cabe-cabean, rumput siso, rumput jabung, dan banyak lagi. Tumbuhnya pun subur-subur.”

“Kalau rumput-rumput itu sudah tumbuh, tandanya tanah kita mulai subur lagi, mulai sehat lagi,” kata Nurlela. “Semakin subur rumput-rumput itu tumbuh, tandanya tanah kita semakin sehat.”

“Dulu,” timpal Heni, “rumput kita anggap mengganggu, racun kita anggap membantu.”

“Sekarang dibalik. Racun yang mengganggu, bahkan merusak. Merusak tanah, merusak tanaman sela, merusak kopi, merusak pohon lainnya.”

Sambil menggeser sedikit posisi punggungnya yang menyandar di pelupuh bambu, ia melanjutkan, “Sekarang, rumputlah yang membantu. Banyak rumput berarti kebun sehat. Banyak rumput berarti banyak air, banyak mulsa organik, banyak pupuk organik, dan banyak hasil panen.”

“Dibanding meracun,” tambah Supartina, “memang merigas rumput membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.”

“Tapi, dengan merigas, kita bisa menjaga kelembapan dan kesehatan tanah, menanam tanaman lain, dan menjaga kesehatan pohon kopi dan tanaman lainnya.”

”Biarlah lambat, tapi banyak manfaat. Daripada cepat, tapi banyak mudarat,” tambahnya.

“Kami di sini sudah menghidupkan kembali ganti hari,” Supartina melanjutkan. “Untuk sementara, ganti hari merigas rumput. Mudah-mudahan kedepannya juga bisa ganti hari merawat lubang angin dan membuat pupuk organik di lubang angin.”

“Iya Bu, kami juga sudah berencana menghidupkan kembali ganti hari,” timpal Mercy. “Rencanannya, tahap awal ganti hari merigas rumput, tapi kedepannya kami juga berharap bisa ganti hari merawat lubang angin dan membuat pupuk organik di lubang angin.”

Kebun Sejuk, Kerja Nyaman

“Sekarang ini,” Mercy melanjutkan, “untuk merigas rumput di kebun juga sudah lebih enak. Tidak panas seperti sebelumnya. Rimbunnya pohon kopi membuat suhu di kebun menjadi sejuk.”

“Sebelumnya, cepat merasa gerah. Manen buah kopi pun harus cepat-cepat. Sebisa mungkin menghindari tengah hari. Walau pakai penutup kepala tambahan, masih terasa panas. Kalau tidak pakai, terasa bedengkang kepala.”

“Sejak pohon kopi jadi rimbun, sudah tidak susah lagi mencari tempat beristirahat di kebun,” sambung Supartina.

“Jadi ingat sewaktu kecil, sering bermain, bahkan tidur-tiduran di bawah rindangnya pohon kopi, jengkol, alpukat dan pohon lainnya.”

“Dan, kalau diperhatikan, tidak banyak buah kopi gugur yang terlihat di bawah pohon kopi yang rimbun atau pohon kopi yang dibayangi oleh pohon alpukat, jengkol, durian atau pohon lainnya.”

“Menanam pohon durian, alpukat, jengkol dan nangka sepertinya memang tidak mengganggu,” sambung Lena.

“Apalagi, kalau jarak tanamnya diatur. Sebaliknya, bisa melindungi pohon kopi dari tetesan air hujan dan terik sinar matahari.”

“Selain itu, buahnya juga bisa dimakan sendiri dan dijual. Hitung-hitung hasil panennya bisa menjadi tambahan, bahkan bisa menjadi tabungan,” katanya, sembari tangan kanannya memainkan pena plastik hitam di depan kakinya yang bersila.

Rindu Kebun, Relasi Romantis

Ia juga melanjutkan, “Sekarang ini, rasanya pengen setiap hari ke kebun.”

“Biasanya, suami yang mengajak ke kebun. Kalau sekarang, saya yang mengajak suami. Kalau suami tidak mau ke kebun, saya tetap ke kebun.”

Sembari tangannya masih terus memainkan pena, ia melanjutkan, “Kalau tidak ke kebun, kepala terasa sakit. Jauh berbeda bila ke kebun, bukan hanya kepala yang tidak merasa sakit, hati juga merasa senang.”

“Bukan hanya mengajak ke kebun, tapi juga mengajak suami mendiskusikan apa yang akan dikerjakan di kebun,” sambung Supartina. “Besok, bagaimana kalau kita mengerjakan ini atau mengerjakan itu, menanam ini atau itu, atau saya mau mengerjakan ini, silakan bapak mengerjakan itu.”

“Tidak lagi sekadar ikut suami, tetapi sudah mendiskusikan rencana,” timpal Julian. “Jadi, pergi ke kebun bersama suami terasa berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, termasuk saat bekerja di kebun, dan pulang dari kebun.”

Sambil tersenyum-senyum, ia menambahkan, “Terasa lebih romantis.” Seketika saung itu kembali ramai dengan suara tawa.

Biarlah Dianggap Bodoh, Yang Penting Bahagia

“Mungkin,” sambung Mercy, “banyak pihak menganggap langkah kita membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang ini tidak “modern” atau “maju”.”

“Bahkan, mungkin dianggap bertentangan oleh pemerintah (daerah).”

“Kalaupun pemerintah (daerah) menganggap kita bodoh, tertinggal, dan terbelakang, biarlah,” timpal Supartina.

“Yang penting, hasil kebun kita lebih memuaskan, kebun kita lebih sehat, rumah tangga kita lebih harmonis, dan kita lebih bahagia,” sambungnya, yang direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya sambil saling memandang.

Bangga, Dari Nenek Moyang untuk Anak Cucu

“Yang jelas,” tambah Mardalena, “kita sudah membuktikan dan merasakan sendiri berbagai perubahan yang telah terjadi pada tanah, kebun, kopi, tanaman lain, diri kita sendiri, dan keluarga kita.”

“Semoga ke depannya, perubahan-perubahan lain yang akan terjadi membuat kita dan kebun kopi kita menjadi lebih baik lagi,” harapnya, yang juga direspons dengan anggukan mantap perempuan petani kopi lainnya.

“Bagaimanapun juga,” sambung Nurlela, “kita harus bangga dengan konsep Kebun Kopi Tangguh Iklim.”

“Sebab kita sendirilah, perempuan petani kopi yang sering dianggap tidak tahu apa-apa dan tidak pernah ke mana-mana, yang membuatnya. Kita pun membuatnya dengan menghidupkan kembali cara-cara nenek moyang kita, dan kita menerapkannya untuk masa depan anak cucu kita.”

Related Posts

Mutigh Kawe(o): Dari Bengkulu, Membangun Narasi Kopi Islam – Sumatera

Membaca lima belas kata terakhir dalam kalimat Steven Topik seketika meretakkan dinding pengetahuan saya tentang sejarah kopi di Indonesia. Saya sisir ulang kalimat itu untuk menahan agar…

Enggan Menjadi Korban Sunyi Bencana Senyap Krisis Iklim

Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. “Di sini lebih banyak,” katanya pelan seolah enggan memberitahukan. Buah-buah kopi hijau muda dan hijau…

Memanggil Kembali Roh Menanam Padi Riun: Ikhtiar Merawat Kedaulatan Pangan di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah,…

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Satu Per Satu Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan…

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat…

Pemda Rejang Lebong Nilai Kebun Kopi Tangguh Iklim Layak Diperluas

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *