29 Kelompok Perempuan Pengelola Hutan dan Usaha HHBK akan Berdialog dengan Gubernur Bengkulu

Sebanyak 29 kelompok perempuan pengelola hutan dan usaha hasil hutan bukan kayu (HHBK) akan menyampaikan aspirasi melalui kegiatan dialog dengan para pemangku kebijakan, yakni Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Provinsi Bengkulu dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Sumatera, dan Gubernur Bengkulu.

Perwakilan Kelompok Perempuan Pengelola Hutan berlatih pemetaan partisipatif berbasis teknologi solutif.

Penyampaian aspirasi akan dilakukan dalam Temu Regional Perempuan dan Generasi Muda Perhutanan Sosial: Memperkuat Dukungan Pemangku Kebijakan untuk Akses dan Partisipasi Perempuan dan Generasi Muda dalam Pengelolaan Hutan dan Usaha (HHBK) di Provinsi Bengkulu yang difasilitasi oleh Lembaga Kajian, Advokasi dan Edukasi (LivE) dan The Asia Foundation pada 3 – 5 Juli 2023.

Sebanyak 29 kelompok perempuan tersebut meliputi 11 kelompok perempuan dengan anggota berjumlah 544 orang yang telah dan sedang berproses mendapatkan legalitas hak pengelolaan hutan dan pemanfaatan hasil hutan seluas 1.065,35 ha di kawasan TNKS di Kabupaten Rejang Lebong, TWA Bukit Kaba di Kabupaten Kepahiang dan Hutan Lindung Bukit Daun di Bengkulu Tengah, dan 18 kelompok usaha HHBK yang telah merintis usaha pangan olahan HHBK seperti Kecombrang, Pakis, Bambu, Pulutan, Aren, Jengkol, Durian, Nangka, Alpukat dan Pinang.

Menurut Ketua Panitia Kegiatan, Intan Yones Astika, penyampaian aspirasi tersebut akan dilakukan secara bertahap. Penyampaian aspirasi kepada Balai Besar TNKS, BKSDA Bengkulu, DLHK Provinsi Bengkulu, Bappeda Provinsi Bengkulu dan BPSKL Wilayah Sumatera akan dilakukan dalam dialog pada Selasa, 4 Juli 2023.

“Sehari sebelumnya atau pada 3 Juli 2023, perwakilan 29 kelompok perempuan tersebut akan difasilitasi diskusi terfokus untuk menemukenali tantangan yang dihadapi terkait aspek kelola kelembagaan, kelola kawasan dan kelola usaha, dan menyusun aspirasi yang akan disampaikan kepada Balai Besar TNKS, BKSDA Bengkulu, DLHK Provinsi Bengkulu, Bappeda Provinsi Bengkulu dan BPSKL Wilayah Sumatera terkait tantangan yang dihadapi,” ujar Intan pada Rabu (28 Juni 2023).

Setelah mendengar secara langsung dari para Balai Besar TNKS, BKSDA Bengkulu, DLHK Provinsi Bengkulu, Bappeda Provinsi Bengkulu dan BPSKL Wilayah Sumatera terkait dukungan kebijakan dan anggaran yang bisa dan tidak bisa diberikan, sambung Intan, para perempuan tersebut kembali akan difasilitasi diskusi terfokus untuk menyusun aspirasi untuk disampaikan kepada Gubernur Bengkulu dalam dialog pada 5 Juli 2023.

“Alhamdulillah, Gubernur Bengkulu, Pak Rohidin Mersyah berkenan untuk menerima kehadiran perwakilan 29 kelompok perempuan tersebut untuk berdialog. Kabar baiknya, Country Representative The Asia Foundation, Ibu Hana Satriyo juga berencana akan menghadiri kegiatan dialog dengan Gubernur Bengkulu,” kata Intan.

Temu Regional Perempuan dan Generasi Muda Perhutanan Sosial di Provinsi Bengkulu ini merupakan rangkaian kegiatan Temu Regional Perempuan dan Generasi Muda Perhutanan Sosial di Indonesia yang difasilitasi oleh The Asia Foundation bersama LivE di Provinsi Bengkulu, KBCF di Kalimantan Timur, PUPUK di Kalimantan Barat, dan Yayasan Sikola Mombine di Sulawesi Tengah dan Gender Focal Point (GFP) pada Juli hingga September 2023. (**)

            Baixar              Bytebaixar

Related Posts

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat…

Pemda Rejang Lebong Nilai Kebun Kopi Tangguh Iklim Layak Diperluas

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan…

Sekolah Adat Tunggu Tubang, Jalan Pulang Generasi Muda Adat Semende

Komunitas Adat Muara Dua, Semende Ulu Nasal di Kabupaten Kaur meresmikan sekolah adat pada Sabtu (18/10/25). Sekolah yang dibangun secara bergotong-royong dengan konstruksi kayu beratap kayu Sirap…

Bupati Kepahiang Ingin Kebun Kopi Tangguh Iklim Menyerbak

“Ini yang saya cari,” ujar Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, S.IP dalam diskusi bersama perwakilan Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti) Bengkulu di…

Perempuan Petani Kopi dari 20 Desa Surati Bupati Minta Fasilitasi Bangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

Sebanyak 40 orang perempuan petani kopi dari 20 desa di Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong menandatangani surat permintaan kepada bupati agar memfasilitasi para perempuan petani kopi…

Perempuan Besemah Padang Guci: Pelestarian Aren Penting untuk Adat dan Tradisi

“Bubugh (bubur). Wajib ada saat jamuan adat perkawinan di adat kami, orang Besemah Padang Guci. Tidak bisa tidak ada,” kata Endang Putriani (36), perempuan Besemah Padang Guci…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *