Kulik… kulik…
Supartina Paksi baru saja berhenti mengayunkan palu dengan tangan kanannya setelah memaku papan larangan pada batang pohon res yang diselimuti rimbunan daun sisik naga.
Tiba-tiba, lengkingan panjang memecah kesunyian sore yang hangat.
Saya langsung mendongakkan kepala ke langit putih kebiruan, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara.
Namun, usaha itu sia-sia. Saya tidak melihat seekor elang pun melayang atau berputar-putar di angkasa.
Saya pun menurunkan kepala dan kembali menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap melihatnya bertengger di salah satu dahan pohon di kebun kopi.
Namun, pencarian itu tetap tidak membuahkan hasil.
Kulik… kulik…
Lengkingan itu kembali terdengar.
Saya kembali mendongakkan kepala ke langit. Namun, sumber suara tersebut tak kunjung saya temukan.
Lengkingan itu kemudian tak terdengar lagi.
Supartina pun mulai melangkah keluar dari kebun kopi. Setiap kali kakinya menginjak tanah, terdengar derak daun-daun kering kecokelatan dari pohon kopi dan pepohonan lain yang bercampur dengan rerumputan hasil tebasan yang juga telah mengering kecokelatan.
Papan tripleks berlapis melamin putih seukuran badan orang dewasa itu terpasang kokoh pada salah satu pohon res di antara pohon-pohon kopi dan cabai rawit di Kebun Kopi Tangguh Iklim milik Dewi Herlinda dan Harwan Iskandar. Pada papan tersebut tertulis dengan huruf hitam: “Kawasan Dilarang Berburu Burung”.

Selasa sore (18/8/2026) itu, tak lama setelah azan Asar berkumandang, Harwan Iskandar (Kepala Desa Batu Ampar) mengajak saya, Aftarizal Doni (Ketua SIEJ Daerah Bengkulu), dan Ahimsa Al Adil (mahasiswa Program Studi Jurnalistik FISIP Universitas Bengkulu) menemani Supartina Paksi dan Siti Hermi (perintis dan penggerak Koppi Sakti Bengkulu) memasang papan larangan tersebut.
Pemasangan papan tersebut merupakan bagian dari upaya menyosialisasikan rencana pelarangan berburu burung yang akan diatur dalam peraturan desa. Rancangan peraturan desa tersebut saat ini sedang dibahas oleh Pemerintah Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa Batu Ampar.
Setelah selesai memasang papan di kebun milik Dewi dan Harwan, kami melanjutkan perjalanan ke kebun kopi milik warga lainnya, melewati jalan usaha tani berlapis lapen yang membelah kebun-kebun kopi. Setelah melewati dua bidang kebun kopi, Siti Hermi, yang membawa papan tripleks, palu, dan paku, melangkah lebih dulu menuju pohon surian, lalu memasang papan tersebut.
“Papan yang dipasang Ibu Siti adalah papan kesepuluh, sedangkan papan yang dipasang Ibu Supartina adalah papan kesembilan. Pemasangan pertama dilakukan pada minggu ketiga bulan lalu (Juli),” kata Harwan.
Mendoakan
“Setelah papan larangan dipasang, mulai banyak lagi jenis burung yang terdengar kicauannya,” ujar Harwan sembari duduk di atas potongan kayu sebesar betis orang dewasa di depan pondok pengolahan gula merah di kebunnya pada Selasa pagi (18/8/2026), ketika matahari beranjak meninggi. Saat itu, Harwan sengaja mengajak saya, Doni, dan Adil untuk mendengarkan kicauan beragam jenis burung sambil berbincang santai dan menikmati kawo ayik niro panas yang disajikannya dalam cangkir kaleng putih bermotif bunga merah.
Tak lama berselang, Burhanudin dan Syamsir, yang juga petani kopi, menghampiri kami. Harwan sempat bertanya kepada mereka tentang jenis-jenis burung yang mulai sering terdengar berkicau di kebun kopi. Harwan juga menyampaikan rencananya untuk mengajak mereka mencari dan mengumpulkan beberapa bibit pohon lokal, kemudian menanamnya di pinggiran kebun kopi.
“Pohon kenidai, setepu, dan sapat. Pohon-pohon ini sudah jarang ditemui di sekitar kebun kopi. Padahal, banyak burung yang suka makan buah ketiga pohon itu,” ujar Harwan, tak lama setelah Burhanudin dan Syamsir meninggalkan kami.
“Mendengar burung-burung berkicau membuat saya merasa lebih nyaman dan lebih bersemangat. Kalau tidak ada burung yang berkicau, kebun kopi terasa sepi, seperti sendirian tanpa teman,” sambung Harwan.
“Musik alam. Setiap burung mempunyai nada dan irama yang berbeda. Semakin banyak jenis burung yang berkicau, semakin ramai nada dan irama yang terdengar, semakin nyaman dan bersemangat rasanya. Karya Allah tidak ada duanya,” tambah Harwan.
Harwan pun melanjutkan, “Selain itu, seperti halnya tanaman yang bertasbih, barangkali burung-burung juga bertasbih dan berdoa ketika berkicau.”
“Kalau kebun kopi menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk singgah, mencari makan, atau bahkan bersarang dan berkembang biak, mungkin mereka juga akan mendoakan kebun kopi dan kita. Mendoakan agar kita dimudahkan rezeki dan dijauhkan dari segala mara bahaya.”
Membantu
Hingga menjelang azan Zuhur kami mendengarkan kicauan beragam jenis burung. Kami bahkan sempat melihat beberapa di antaranya terbang dari pohon ke pohon, baik pohon kopi maupun pepohonan lainnya. “Kecici palak abang, kecici ikok panjang, princit paghuh pandak, princit paghuh panjang, percang, kutilang, puyuh, dan tekuku,” ujar Harwan, menyebut satu per satu jenis burung yang kicauannya terdengar.
“Sebenarnya, masih banyak lagi jenis burung yang kini mulai terdengar kicauannya. Namun, belum rezeki kita untuk mendengarnya hari ini. Sayangnya, saya kurang begitu hafal nama-namanya,” tambah Harwan sembari beranjak dari duduk, berjalan ke pondok pengolahan gula aren, mengambil sendok kayu panjang yang tergantung di atas kuali aluminium berdiameter selengan tangan orang dewasa, lalu mengaduk-aduk perlahan air nira yang mendidih di dalam kuali.
Harwan pun melanjutkan, “Boleh dikatakan, nyaris tidak ada burung yang merugikan, malah sebaliknya. Ada yang membantu penyerbukan bunga kopi dan tanaman lain, ada juga yang membantu dengan makan ulat dan berbagai jenis serangga seperti belalang, kumbang, tawon, semut, dan lainnya. Ada pula yang membantu keduanya.”
“Beberapa di antaranya juga membantu menyebarkan biji tanaman. Artinya, burung berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati dan menjaga keseimbangan ekosistem,” sambung Harwan sembari menggantungkan kembali sendok kayu panjang, mengecek api di tungku pengolahan gula aren, lalu memasukkan tiga batang kayu sebesar lengan orang dewasa ke dalam perapian.

Kebun Kopi Tangguh Iklim Ramah Burung
“Tentu saja, kami sangat mendukung pelarangan berburu burung,” kata Supartina yang diikuti anggukan kepala Siti, saat kami berbincang santai di depan pondok pengolahan gula merah di kebun kopi Harwan, tak lama setelah Supartina dan Siti memasang papan larangan.
“Bisa dikatakan, pelarangan berburu burung ini sejalan dengan Kebun Kopi Tangguh Iklim,” tambah Supartina yang duduk di atas potongan kayu sebesar betis orang dewasa di dekat tumpukan kayu.
“Dengan menghidupkan kembali berbagai kearifan lokal dalam membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim, secara langsung maupun tidak langsung kita berupaya mengembalikan kebun kopi sebagai tempat burung mencari makan, bahkan bersarang,” kata Supartina.
“Misalnya, dengan tidak lagi meracun rumput, kita tidak lagi mengusir burung dan membuat mereka kehilangan makanan dan tempat tinggal,” kata Supartina sambil memainkan pecahan kulit kayu sebesar ibu jari dan sepanjang telapak tangan orang dewasa dengan tangan kanannya.
“Kalau menggunakan racun rumput, jangankan burung, orang yang terpapar saja bisa mabuk, muntah, dan sakit kepala,” sambung Siti yang duduk di atas potongan kayu sebesar badan orang dewasa sambil menyilangkan kaki kirinya, berjarak sekitar 1,5 meter dari Supartina.
“Racun rumput lambat laun membuat tanah menjadi keras dan gersang. Racun rumput juga mengakibatkan ulat dan serangga kecil hilang, begitu pula cacing di tanah. Padahal, ulat, serangga, dan cacing merupakan makanan burung,” sambung Siti.
“Dengan merumput, lalu memanfaatkan rumput hasil tebasa sebagai mulsa organik bersama dedaunan dan ranting pohon kopi serta pepohonan lainnya, tanah kembali subur. Cacing pun kembali banyak di dalam tanah. Begitu pula ulat dan serangga kecil mulai bermunculan lagi di kebun,” kata Siti.
“Sebelumnya, nyaris tidak ada burung puyuh dan tekuku yang terlihat di kebun. Kini, keduanya sudah sering terlihat, terutama tekuku,” kata Siti, sambil mengurut-urut betis kaki kirinya yang berbalut celana panjang putih keabu-abuan dengan kedua tangan.
“Di kebun saya juga, bukan hanya puyuh dan tekuku, bahkan beberapa kali terlihat burung berwarna putih dan hitam datang mencari makan di tanah. Belum lama ini, saya bahkan menemukan telur burung puyuh di dua tempat berbeda. Rasanya senang sekali ketika menemukannya,” ujar Supartina.
“Begitu pula dengan membuat lubang angin serta membuat dan menggunakan pupuk organik dari rerumputan dan dedaunan pohon kopi dan pepohonan lainnya. Itu juga membuat cacing kembali banyak di dalam tanah, sementara ulat dan serangga kecil mulai bermunculan,” tambah Supartina.
“Beberapa jenis burung, seperti burung puyuh dan tekuku, suka mandi tanah. Mereka biasanya mandi di tanah yang gembur dan subur. Kalau tanah keras dan gersang, mereka tidak bisa mandi tanah,” sambung Siti sambil terus mengurut-urut betis kaki kirinya.
“Dengan membuat bak penampungan air hujan, secara langsung maupun tidak langsung kita juga menyediakan tempat bagi burung-burung untuk minum dan mandi,” tambah Supartina sambil menokok-nokok pelan tempurung lutut kirinya yang tertutup celana panjang berwarna hitam dan berlis abu-abu dengan pecahan kulit kayu.
“Dengan tidak menyemprot pestisida, secara langsung maupun tidak langsung kita juga tidak lagi mengusir burung, membuat mereka kehilangan makanan, dan kehilangan kesempatan untuk membuat sarang di pohon kopi. Burung princit dan kecici palak abang, misalnya, sering membuat sarang di pohon kopi,” ujar Supartina.
“Begitu pula dengan menghidupkan kembali polikultur. Secara langsung dan tidak langsung, kita berupaya mengembalikan kebun kopi sebagai tempat burung mencari makan, bahkan bersarang,” kata Siti sambil melepaskan silangan kaki kirinya dari kaki kanan, lalu menyilangkan kaki kanannya ke kaki kirinya.
Kode Kehidupan
“Kalau banyak burung yang mencari makan di kebun kita, itu bisa menjadi tanda bahwa rezeki kita tahun ini bagus. Bunga dan buah kopi kita, begitu pula buah tanaman lain di kebun kopi, kemungkinan besar lengket atau tidak gugur,” tambah Siti.
“Dulu, cerita nenek, burung itu termasuk kode. Kalau banyak burung yang mencari makan di kebun kopi kita, apalagi sampai bersarang, berarti kebun kopi kita ada diwonya. Bunga dan buah kopi kita, termasuk buah tanaman lain di kebun kopi kita, bakal bagus. Hasil panen kita juga bakal bagus,” kata Supartina.
“Kode kehidupan. Kalau di kebun kopi atau desa masih banyak burung, itu bisa menjadi kode bahwa kehidupan di kebun kopi dan desa itu makmur. Sebaliknya, kalau di kebun kopi atau desa sudah tidak ada burung, itu kode bahwa kehidupan di kebun kopi dan desa itu kurang makmur,” ujar Siti. (**)
