Lebih Hidup di Kebun Kopi Tangguh Iklim

Mata Dewi Herlinda terus berbinar. Pandangannya beralih cepat dari satu rumpun ke rumpun lainnya. Bibirnya sedikit terbuka, dengan kedua ujungnya membentuk guratan halus menyerupai senyum.

Dengan sepatu kebun berwarna putih, Dewi melangkah ringan menapaki hamparan rumput siso pipit di tanah menanjak. Rumput yang daunnya menyerupai daun jagung itu tumbuh di antara ranting dan dedaunan kopi sisa sepingan serta rerumputan hasil tebasan yang telah mengering kecokelatan, menyatu dengan permukaan tanah.

Mengenakan hijab putih keabu-abuan, baju kaos lengan panjang dan celana training oranye, Dewi sesekali merundukkan tubuhnya untuk melewati rimbun dedaunan hijau pekat pepohonan kopi yang berderet di sepanjang teras kebun.

Di dekat pangkal daun, hampir di sepanjang ranting pepohonan kopi, menempel bakal-bakal buah kopi berwarna hijau pekat dengan ukuran beragam, mulai dari sebesar kepala lalat hingga sebesar ujung kelingking orang dewasa.

Ketika tiba di depan rumpun tanaman yang daunnya menyerupai tulang ikan dengan batang muda hijau cerah yang ujungnya menggulung rapat, Dewi menghentikan langkahnya.

“Kami menyebut pakis ikan, po’ong kan,” kata Dewi.

Dewi Herlinda memanen po’ong kan.

Ia membungkukkan tubuhnya perlahan, mengulurkan tangan kanan, menjepit batang muda po’ong kan dengan ibu jari dan telunjuk, lalu mematahkannya dengan lembut.

Ctiik.

Bunyi patahan batang muda itu berbaur dengan riuhnya suara sesiar dari balik rimbun dedaunan kopi dan desir angin sepoi-sepoi.

Sambil memindahkan potongan batang muda dari tangan kanannya ke tangan kiri, Dewi melanjutkan langkahnya. Tangan kirinya bertumpu pada tepi kanan mulut beronang rotan bertali hitam yang tersandang di sisi kiri tubuhnya.

“Kalau memanen pakis ikan, mok po’ong kan,” sambung Dewi.

Dewi menghampiri rumpun demi rumpun po’ong kan yang berderet di lawang-lawang pepohonan kopi dan di dekat dinding teras kebun. Ia berjalan menyusuri dinding teras yang berundak-undak seperti tangga, dengan bidang pijakan yang lebar dan memanjang, menyerupai ular yang berjalan merambat ke atas.

Setiap melihat rumpun po’ong kan yang memiliki batang muda yang ujungnya menggulung rapat, ia berhenti, membungkuk, menjepit, memetik. Ctiiik. Setelah itu, ia memindahkan potongan batang ke tangan kirinya sambil melanjutkan langkah ke rumpun berikutnya.

Ketika potongan batang muda semakin menumpuk dalam genggaman tangan kirinya, Dewi perlahan membuka genggaman dan melepaskan seluruh potongan batang itu ke dalam beronang.

“Kalau hujannya kurang seperti saat ini, memanennya lima atau enam hari sekali,” ujar Dewi yang duduk bersila di lantai papan pondok kebun yang berdiri di atas kolam ikan di lembah kebun kopinya, tak lama setelah Dewi selesai mok po’ong kan pada Senin sore (26/10/2026) itu.

Di pondok tanpa pintu itu, yang sisi depan dan kirinya berdinding papan setinggi lutut orang dewasa, Dewi ditemani suaminya, Harwan Iskandar, dan putri mereka, Adibah, yang berusia empat setengah tahun.

Sambil mengeluarkan semua potongan batang muda po’ong kan hasil panenan dari beronang dan meletakkannya di lantai pondok, Dewi menambahkan, “Kalau hujannya cukup, memanennya empat hari sekali, bahkan tak jarang tiga hari sekali. Kalau hujannya cukup, po’ong kan cepat sekali tumbuh, batangnya juga lebih lembut.”

Setelah semua hasil panen terkumpul di lantai pondok, ia memeriksanya satu per satu. Ia mencari batang yang agak keras, dengan daun yang mulai menua, lalu mematahkan bagian tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuknya. “Sekali panen, hasilnya berkisar 30–50 ikat. Relatif masih sedikit,” kata Dewi.

Baca Juga  Panggilan untuk Berkontribusi dan Berkolaborasi: Memberdayakan Perempuan Petani Kopi untuk Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim

“Rencananya, kami akan memperbanyak jumlah rumpun yang ditanam. Iya kan, Yah?” ujar Dewi sambil menoleh ke arah Harwan.

Saat itu, Harwan yang duduk bersila di ujung kiri pondok menemani Adibah yang duduk di pinggir lantai pondok yang tak berdinding. Anak itu sedang memainkan air kolam setinggi lutut orang dewasa yang terus mengalir dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya yang menjuntai ke air kolam. “Insya Allah, iya,” jawab Harwan sambil mengangguk dan menatap Dewi.

Setelah memeriksa semua hasil panen, Dewi kembali memasukkannya ke beronang sebelum membawanya pulang. “Biasanya semua hasil panen dijual. Sesekali, kalau lagi pengen makan po’ong kan, sebagian hasil panen dimasak menjadi gulai,” kata Dewi.

Namun, sore itu, Dewi mok po’ong kan bukan untuk dijual, melainkan khusus untuk diolah menjadi lauk makan malam. Ia memanennya secukupnya, sesuai dengan kebutuhan memasak.

“Ini akan dimasak menjadi gulai untuk makan malam kita nanti,” ujar Dewi kepada saya dan tiga teman saya, Muhammad Ikhsan, Jamaludin Winarhadi Kusumo, dan Ahimsa Al Adil. Kami memang telah berencana menginap di rumah mereka.

“Tadi suami saya sempat ngomong ingin makan gulai po’ong kan,” sambung Dewi, yang direspon oleh Harwan dengan menganggukan kepalanya.

Dewi Herlinda memanen po’ong kan.

Beragam Sayuran dan Rempah

Sore itu, Dewi tak sekadar mok po’ong kan. Saat akan melangkah ke pinggir jalan tanah yang membelah kebun, ia menghampiri sebatang pohon cabai rawit hijau setinggi tubuhnya. Letaknya tidak jauh dari rumpun po’ong kan, rumpun serai, dan barisan pohon ubi kayu.

Dengan ibu jari dan telunjuk kedua tangannya, Dewi mematahkan ranting-ranting tua yang sudah tidak lagi berdaun dari pangkalnya. “Nyeping. Supaya tumbuh tunas-tunas baru yang nantinya bisa menghasilkan bunga-bunga baru cabe mbun,” kata Dewi.

Sambil terus nyeping ranting demi ranting hingga pohon cabe mbun itu hingga tak menyisakan ranting tua, Dewi menambahkan, “Cara lainnya, dipangkas dari batang bagian bawah. Atau, setelah semua ranting diseping, pohonnya dirobohkan dengan kaki dan diinjak agar batangnya menyentuh tanah.”

Selesai nyeping ranting cabe mbun, Dewi menghampiri rumpun serai. Ia kemudian mengambil sebilah pisau dari dalam beronang, lalu membungkuk. Tangan kirinya memegang beberapa batang serai yang daunnya telah kecokelatan, sementara tangan kanannya memotong batang-batang itu pada bagian pangkalnya.

“Mersikan se’ai. Kalau tidak dibersihkan, lama-kelamaan seluruh batang dan daunnya bisa berubah menjadi kecokelatan, lalu akhirnya mati serumpun,” ujar Dewi.

Dewi pun memotong-motong batang dan daun hasil pangkasan menjadi beberapa bagian, lalu menebarkannya di sekitar rumpun se’ai. “Supaya lebih cepat terurai dan berubah menjadi pupuk,” terang Dewi sembari kembali memangkas beberapa batang yang daunnya telah kecokelatan dari rumpun tersebut.

“Ini juga untuk menumbuhkan tunas baru supaya rumpunnya semakin besar,” sambungnya.

Setelah memotong batang-batang berdaun kecokelatan, Dewi memilih empat ruas batang se’ai sebesar ibu jari orang dewasa yang berdaun hijau dengan tangan kirinya. Dengan tangan kanannya, ia memotong keempat ruas itu pada bagian pangkalnya, lalu memangkas daunnya.

“Ini untuk keperluan bumbu dapur di rumah,” kata Dewi sembari memasukkan pisau dan se’ai hasil panen ke dalam beronang dan melanjutkan langkahnya menyeberang jalan.

Tiba di seberang jalan, Dewi kembali menghampiri pohon cabe mbun yang tumbuh sekitar empat langkah dari pinggir jalan. Pohon itu hampir setinggi tubuh Dewi. Dengan ibu jari dan telunjuk kedua tangannya, ia memetik buah-buah cabe mbun yang berwarna hijau kemerahan dan merah, lalu memasukkan hasil petikannya ke dalam beronang.

“Sama seperti se’ai, hasil panen cabe mbun ini juga untuk bumbu di dapur,” terang Dewi.

Baca Juga  Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Satu Per Satu Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Usai memanen cabe mbun, Dewi melanjutkan langkahnya menuju pohon kopi yang berjarak sekitar tiga langkah dari tanaman tersebut. Ia menghampiri ranting pohon kopi yang menempel dua buku buah kopi yang hampir semua buahnya berwarna merah.

Dengan menggunakan jari telunjuk, tengah, manis, dan kelingking, Dewi perlahan melepaskan satu per satu buah kopi yang berwarna merah dari tangkainya dengan menggerak-gerakkan keempat jari tersebut. Buah-buah itu perlahan terkumpul di kedua telapak tangannya yang menghadap ke atas.

“Mutigh buah kelang. Kalau sedang memanen po’ong kan, cabe mbun, atau te’ung butok, dan kebetulan melihat ada buah kelang yang sudah berwarna merah, saya biasanya sekalian memanennya,” terang Dewi sembari terus menggerak-gerakkan keempat jarinya.

Usai mutigh buah kelang kopi, Dewi melanjutkan langkahnya menuju rumpun kunyit yang tumbuh di pinggir jalan, sekitar tiga langkah dari pohon kopi. Ia kembali mengambil pisau dari dalam beronang, duduk bersimpuh, lalu menggali tanah di sekitar rumpun kunyit. Setelah menemukan rimpangnya, Dewi memotong empat ruas, lalu memasukkannya ke dalam beronang.

“Ini juga untuk bumbu di dapur. Kalau rumpun kunik ini sudah rimbun, tapi tidak kunjung dipanen, perlahan akan mati,” terang Dewi sembari berdiri dan melangkah menuju pondok di lembah kebun kopinya.

Dalam perjalanan menuju pondok, mata Dewi menyusuri rumpun-rumpun se’ai dan kunik, tanaman ubi kayu dan cabe mbun, serta rumpun-rumpun po’ong kan yang tumbuh di sepanjang sisi kiri dan kanan pinggir jalan.

“Pohon cabe mbun yang masih ada di kebun kami mungkin hanya belasan batang. Itu pun hanya di dekat pinggir jalan. Sengaja ditinggalkan untuk kebutuhan memasak,” kata Dewi sambil menyusun potongan kayu bakar di tungku perapian yang terbuat dari drum dan tanah, tak lama setelah Dewi selesai memeriksa hasil panen po’ong kan.

“Pohon-pohon cabe mbun lainnya yang ditanam di lawang-lawang pepohonan kopi sudah dicabut. Rencananya akan ditanam yang baru,” sambung Dewi sembari menyalakan kayu bakar menggunakan potongan ban motor bekas seukuran ibu jari orang dewasa.

“Walau jumlah pohon cabe mbun yang ditanam sebelumnya relatif sedikit, hasilnya, Alhamdulillah, lumayan. Sekali panen, hasilnya berkisar 8–12 kg. Panennya dua minggu sekali,” ujar Dewi sembari meletakkan panci berisi air yang diambil dari pancuran dekat rumpun bambu, tak jauh dari pondok. Pancuran tersebut mengalirkan air yang bersumber dari mata air di kebun mereka.

“Kemarin, se’ai kami juga sudah ada yang membeli,” kata Dewi.

“Berapa rumpun, Yah?” tanyanya kepada Harwan.

“Sekitar 15 rumpun,” jawab Harwan sambil tersenyum.

Harwan kemudian menambahkan, “Menyambung omongan Ibu tadi, selain berencana memperbanyak rumpun po’ong kan, kami juga akan menanam kembali cabe mbun di lawang-lawang pepohonan kopi dan dekat dinding teras dalam jumlah lebih banyak. Selain cabe mbun, kami juga berencana menanam te’ung butok dan cung di lawang-lawang pepohonan kopi dan dekat dingin teras.”

“Khusus di sisi kiri dan kanan pinggir jalan, rumpun se’ai dan kunik rencananya akan diperbanyak. Pucuk mis juga akan diperbanyak di sepanjang kiri dan kanan pinggir jalan serta di sekitar pondok pengolahan air nira,” lanjut Harwan.

Baca Juga  Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi: Kebun Kopi Tangguh Iklim
Dewi Herlinda menyusuri kebun.

Lebih Hidup

Dewi dan Harwan menanam beragam sayuran dan rempah itu sebagai bagian dari upaya mengembangkan kebun kopi mereka menjadi Kebun Kopi Tangguh Iklim.

Menurut konsep yang disepakati para perempuan petani kopi di Desa Batu Ampar, Kepahiang, pengembangan Kebun Kopi Tangguh Iklim dilakukan dengan menghidupkan kembali sejumlah praktik kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Praktik-praktik kearifan lokal tersebut antara lain meliputi pembuatan lubang angin, tidak menggunakan herbisida, pupuk, dan pestisida kimia, memanfaatkan ranting dan dedaunan sebagai mulsa alami, serta mengembangkan pola tanam polikultur dengan menanam berbagai jenis pohon, seperti alpukat, nangka, durian, jengkol, dan petai, serta beragam sayuran dan rempah-rempah.

Ketika ditanya tentang tantangan terberat dalam membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim, Dewi, salah seorang perumus konsep tersebut, mengungkapkan, “Tantangan terberat adalah berhenti menggunakan racun rumput.”

“Kami mulai tidak lagi menggunakan racun rumput pada akhir 2024,” sambung Dewi.

Sembari menata potongan-potongan kayu bakar di tungku agar kobaran api membesar, Dewi melanjutkan, “Setelah kami amati, tidak menggunakan racun rumput ternyata merupakan keputusan yang tepat.”

“Ketika masih menggunakan racun rumput, tanah kurang subur. Warnanya menguning, padat, keras, dan gersang. Pepohonan kopi juga kurang sehat. Daun menguning, ranting mengering, kulit pangkal batang mengelupas, batang perlahan mengeropos, dan akhirnya mati. Hasil panen juga kurang,” ujar Dewi.

Usai menata potongan kayu bakar, Dewi membuka kotak plastik biru muda berisi pisang rebus. Ia mengambil satu buah, lalu memotongnya menjadi enam bagian di atas piring enamel putih bermotif lurik-lurik hijau.

“Tanaman sayuran dan rempah juga tidak mudah tumbuh, kurang subur, dan cepat mati. Rumput yang tumbuh pun relatif seragam,” lanjut Dewi.

“Udara di kebun juga terasa kering dan gerah. Kurang nyaman.”

Dewi kemudian menyodorkan piring berisi potongan pisang rebus kepada Adibah dan memintanya untuk memakannya.

“Setelah berhenti menggunakan racun rumput, kesuburan tanah perlahan pulih. Tanah mulai berwarna cokelat kehitam-hitaman lagi, gembur lagi, dan tidak gersang lagi,” tambah Dewi sembari mempersilakan kami menyantap pisang rebus.

“Kesehatan pohon kopi juga membaik. Hampir tidak ada lagi daun yang menguning dan ranting yang mengering. Kondisi pangkal batang yang sebelumnya mengeropos dan kulit batang yang mengelupas juga mulai membaik. Hasil panen kopi pun mulai meningkat, berkisar 75–80 persen,” sambung Dewi.

“Jenis rumput yang tumbuh semakin beragam. Sayuran dan rempah yang ditanam juga tumbuh subur.”

Ketika ditanya perubahan apa yang paling dirasakan sejak secara perlahan membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim, Dewi menjawab, “Suasana.”

“Terasa lebih segar, lebih sejuk, lebih nyaman, lebih tenang, dan lebih betah,” sambung Dewi.

“Gimana mengungkapkannya ya?”

Dewi pun terdiam sejenak.

“Lebih hidup. Iya, lebih hidup,” ujar Dewi.

“Banyak juga orang yang berkunjung ke kebun kopi kami ngomong seperti itu. Lebih hidup,” sambung Dewi.

Tak lama berselang, air di panci mendidih. Dewi kemudian menyeduh kopi tubruk. Setelah menyajikan kopi kepada suaminya dan kami, Dewi berkemas untuk pulang ke rumah bersama Adibah.

Setelah menghabiskan kopinya, Harwan pun berangkat menyadap nira dari pohon-pohon enau yang tumbuh di pinggir-pinggir kebunnya. “Kalau teman-teman mau minum air nira segar atau minum kopi dengan air nira panas, nanti mampir saja ke pondok pengolahan air nira,” kata Harwan sembari melangkah meninggalkan pondok kebun yang berdiri di atas kolam.

Related Posts

Kode Kehidupan dari Kicauan Burung di Kebun Kopi Tangguh Iklim

Kulik… kulik… Supartina Paksi baru saja berhenti mengayunkan palu dengan tangan kanannya setelah memaku papan larangan pada batang pohon res yang diselimuti rimbunan daun sisik naga. Tiba-tiba,…

Kedurei Kawo: Ikhtiar Menunaikan Amanat di Kebun Kopi Tangguh Iklim

“Selama ini, kita menganggap kawo dan kebun kawo biasa saja,” ujar Harwan Iskandar yang bersila di tepi kiri terpal plastik oranye yang dibentangkan di pinggir kanan kebun…

Pertahankan Kebun, Perempuan Serawai Petani di Pino Raya: Lum Mati, Lum ke Jerau!

“Pedas padi dimakan kerau,” ujar Ilis. Ucapan janda empat anak kelahiran 1979 yang berjongkok di atas potongan batang kayu sebesar betis orang dewasa di sebelah kanan depan…

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi: Kebun Kopi Tangguh Iklim

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun…

Enggan Menjadi Korban Sunyi Bencana Senyap Krisis Iklim

Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. “Di sini lebih banyak,” katanya pelan seolah enggan memberitahukan. Buah-buah kopi hijau muda dan hijau…

Memanggil Kembali Roh Menanam Padi Riun: Ikhtiar Merawat Kedaulatan Pangan di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *