Aksi Iklim di Pesisir dan Kelautan Masih Hadapi Tantangan Lokal dan Global

Banyak penduduk Indonesia belum memahami dampak perubahan iklim. Survei pada tahun 2019, menempatkan Indonesia sebagai negara paling tertinggi tidak percaya pada perubahan iklim.

“Misinformasi dan ketidaktahuan menjadi faktor kunci,” kata Wira  Ditama Pratama, Senior Analyst Ocean, Climateworks Center, dalam Green Press Community (GPC) 2026 yang berlangsung di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sabtu (7/2/2026).

Pesisir pantai merupakan salah satu lansekap yang terdampak signifikan perubahan iklim. Banjir rob, abrasi, dan badai merupakan dampaknya yang nyata. “Ada kata kunci menarik yakni kiamat iklim dan bencana ekologi jika menghubungkan kedua isu,” terangnya.Banyak anggapan ketika ekonomi dimajukan lewat sektor kelautan, maka berdampak buruk pada lingkungan. Sebaliknya ketika laut dijaga, maka perekonomian negara tidak akan maju. Padahal, hasil penelitan Climateworks Center mengungkapkan, 75 persen wilayah Indonesia berupa lautan yang berpotensi menghasilkan 1,3 triliun dolar Amerika dari sektor ekonomi biru dan aktivitas berbasis kemaritiman.

“Ditambah Indonesia menyimpan 17 persen karbon biru dunia, termasuk mangrove, padang lamun, dan rawa air asin,” beber Wira.

Menjaga ekosistem laut, kata Wira, banyak memberikan manfaat. Seperti mengurangi emisi dan menghidupi masyarakat. Bahkan berpotensi menumbuhkan ekonomi negara hingga 8 persen pertahun. Ini dapat mewujudkan Indonesia emas 2045 atau kata lain menjadi negara maju.

“Ada tiga hal dapat mewujudkannya. Mengatasi tata kelola yang terfragmentasi, menyatukan keterbatasan data dan pembiayaan yang belum optimal, serta penguatan ilmu pengetahuan data pasar untuk mendorong reformasi tata kelola,” terangnya.

Sementara Fegi Nurhabni dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan, isu perubahan iklim dari kelautan tidak begitu menarik bagi internasional. “Meski begitu kami terus mendorong agar isu ini menjadi global,” ungkapnya.

KKP, kata Fegi, telah melakukan mitigasi dan melakukan kegiatan sebagai upaya rehabilitasi dan konservasi ekosistem pesisir. Salah satunya di wilayah Sulawesi Utara. “Ada lima poin, Kami sudah melakukan perluasan konservasi laut, serta pengendalian dan pengawasan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,” terangnya.

Akademisi Mahawan Karuniasa dari ISSG-Foam mengatakan pada saat yang bersamaan kita harus merestorasi kelautan, seperti perbaikan terumbu karang dan magrove. “Selain mitigasi, kita harus mengajak masyarakat yang rentan terutama di wilayah pesisir untuk beradaptasi.”

Sementara Armyanda Tussadiyah dari Pesisir Lestari mengatakan, karbon biru (blue carbon) merupakan salah satu upaya paling baik mengatasi perubahan iklim di bidang keluatan. “Ekosistem blue carbon memang paling baik dalam penyerapan emisi dan lebih baik dari pada pohon-pohon di daratan,” terangnya.

Salah satu ekosistem blue carbon adalah mangrove. “Selain menyerap emisi tinggi, juga memberikan dampak baik bagi masyarakat pesisir,” terangnya. (**)

 

Related Posts

Jalan Pulang Kedaulatan Perempuan Petani Kopi

“Ada penyesalan,” kata Mardalena. Ucapannya seketika membuat perempuan petani kopi lainnya membisu. Seolah menunggu pekikan nyaring sesiar yang bersembunyi di pepohonan di kebun kopi mereda, ia pun…

Enggan Menjadi Korban Sunyi Bencana Senyap Krisis Iklim

Desmi Yati tertegun sejenak di bawah dedaunan hijau salah satu pohon kopi. “Di sini lebih banyak,” katanya pelan seolah enggan memberitahukan. Buah-buah kopi hijau muda dan hijau…

Memanggil Kembali Roh Menanam Padi Riun: Ikhtiar Merawat Kedaulatan Pangan di Sungai Lisai

Hasan Mukti menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Sembari duduk bersila di atas karpet plastik merah, pandangannya lurus menatap pintu kayu yang terbuka lebar. Dari seberang rumah,…

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Satu Per Satu Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Siti Hermi sama sekali tak pernah menduga. Keputusan dia dan suaminya, Depi, mengubah cara memperlakukan kebun kopi sekitar tahun 2007 berdampak fatal. Satu per satu sumber penghidupan…

Gerakan Membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim Perlu Dimasifkan untuk Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

Gerakan perempuan petani kopi membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim tak lagi sekadar dianggap relevan, melainkan mendesak untuk dimasifkan. Di tengah cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi akibat…

Pemda Rejang Lebong Nilai Kebun Kopi Tangguh Iklim Layak Diperluas

“Tentunya kami, Pemerintah Daerah Rejang Lebong, berterima kasih. Ibu-ibu telah mencetuskan solusi terhadap permasalahan keseharian yang dihadapi petani kopi saat ini,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *